Akun mandharabrasika juga menceritakan momen saat ia mengonfrontasi langsung salah satu perwakilan tim bernama Prihantini.
Saat diminta menjelaskan grafik dan poster penelitiannya, yang bersangkutan kebingungan dan tidak bisa memberikan jawaban.
Prihantini justru membuat pengakuan mengejutkan bahwa seluruh abstrak mereka di "generate" oleh pemimpin kelompok mereka yang bernama Rifaldy Fajar.
Motif utama di balik tindakan curang ini diduga kuat untuk mendapatkan dana hibah perjalanan dari penyelenggara.
Dengan memenangkan penghargaan para oknum ini bisa berangkat ke luar negeri secara gratis.
Parahnya, bukti digital menunjukkan ini bukan kali pertama mereka beraksi.
Dokumentasi foto memperlihatkan mereka pernah mendapatkan penghargaan serupa pada konferensi di Taipei pada bulan September tahun 2025.
Mengapa Abstrak Palsu Bisa Lolos Seleksi Internasional
Pertanyaan teknis ini dijawab secara analitis oleh pengguna Instagram w.o.d.d dalam kolom komentar yang membalas pengguna udapinto_ pada 14 jam sebelumnya.
Terdapat 3 alasan utama yang menjadi celah keamanan sistem seleksi.
BACA JUGA:Viral SUV Jerman Porsche Macan Pakai Plat Merah TNI, Segini Taksiran Harga dan Pajaknya
Pertama, peserta hanya perlu mengirimkan abstrak berjumlah 250 hingga 300 kata untuk dinilai, bukan keseluruhan naskah metodologi riset secara utuh. Kedua, konferensi standar internasional menerapkan sistem "blind review".
Dalam sistem ini, para penilai sama sekali tidak mengetahui siapa penulis dan dari mana afiliasi asalnya.
Semua identitas dihilangkan untuk menjaga objektivitas.
Panitia selalu berasumsi bahwa setiap cendekiawan memiliki integritas luhur, yang sayangnya menjadi sebuah "loophole" atau celah kelemahan fatal.
Ketiga, naskah abstrak yang dikirimkan oleh tim ini ditulis dengan gaya bahasa yang sangat meyakinkan.