Kasus ini juga memunculkan perbandingan dengan kasus di Universitas Indonesia.
Di UI 15 mahasiswa dinyatakan bersalah dalam dugaan kekerasan seksual berbasis elektronik dan hanya dijatuhi skorsing 1-3 semester, sementara orang tua cenderung melindungi
BACA JUGA:Putri KW Tantang Wakil Kanada di Babak 16 Besar Indonesia Open 2026, Revans!
Sementara di PNJ, respons orang tua justru mendukung sanksi tegas.
PNJ diketahui dulunya merupakan bagian dari Poltek UI sebelum berpisah pada 1998.
Pihak Politeknik Negeri Jakarta atau PNJ akhirnya memberikan klarifikasi resmi terkait video viral dugaan tindakan asusila sesama jenis dan mengungkat identitas 2 pria yang viral di media sosial.
Peristiwa tersebut terungkap setelah sejumlah mahasiswa memergoki langsung aksi tidak pantas itu di sebuah lorong kampus yang diduga berada di depan ruang perpustakaan dan merekamnya hingga menyebar luas di media sosial.
Insiden ini langsung mendapat penanganan cepat dari pihak kampus untuk mencegah dampak lanjutan serta menjaga kondusivitas lingkungan akademik bagi kamu dan seluruh civitas academica.
Staf Humas PNJ, Soraya, mengonfirmasi bahwa insiden yang terekam dalam potongan video amatir yang beredar luas di berbagai platform media sosial tersebut memang benar terjadi.
"Ini kita jelaskan nih sebelumnya untuk kejadian yang memang insiden yang memang terjadi pada kemarin hari di 2 Juni. Itu memang benar terjadi di lingkungan kampus dan itu ditemukan oleh beberapa mahasiswa juga. Nah, itu makanya kita memiliki langkah preventif setelah ditemukan insiden seperti itu, kita mencoba mengamankan dan agar tidak terjadi kejadian-kejadian yang tidak diinginkan," kata Soraya pada tanggal 3 Juni 2026.
Mengenai identitas pelaku yang terekam dalam video tersebut, Soraya merinci bahwa tindakan tersebut melibatkan 2 orang pria.
Pihak kampus menegaskan bahwa hanya 1 pelaku yang berstatus sebagai mahasiswa aktif.
"Jadi untuk salah satu dari pelaku itu adalah mahasiswa kita. Namun yang satunya lagi, pihak yang satunya bukan mahasiswa kita, yaitu pihak eksternal," ujarnya memberikan kejelasan atas spekulasi publik.
Diketahui, pelaku dari unsur mahasiswa berinisial ARM, sementara pihak eksternal berinisial AW.