BACAKORAN.CO – Ongkos kirim sering menjadi komponen biaya terbesar bagi pelaku UMKM yang mengirim produk dari Sumatera ke Pulau Jawa. Kesalahan menghitung ongkir dapat memangkas margin keuntungan, bahkan membuat harga jual menjadi kurang kompetitif.
Bagi pelaku usaha di Palembang maupun wilayah Sumatera lainnya, memahami cara perhitungan tarif logistik merupakan langkah penting sebelum menentukan harga produk. Tidak hanya berat barang, ukuran kemasan hingga jenis layanan ekspedisi juga sangat memengaruhi besarnya biaya pengiriman.
BACA JUGA:PPh Final UMKM 2026: Cara Hitung Pajak 0,5 Persen, Omzet Rp500 Juta Pertama Bebas Pajak!
Berat Barang Bukan Satu-satunya Penentu Ongkir
Banyak pelaku UMKM mengira ongkos kirim hanya dihitung berdasarkan berat timbangan. Faktanya, perusahaan ekspedisi menggunakan dua metode perhitungan.
Metode tersebut meliputi:
- Berat aktual.
- Berat volumetrik.
Pihak ekspedisi akan menggunakan nilai yang paling besar sebagai dasar perhitungan tarif.
Apa Itu Berat Aktual?
Berat aktual merupakan berat asli barang yang diukur menggunakan timbangan.
Sebagai contoh, sebuah paket memiliki berat 5 kilogram. Maka berat aktualnya adalah 5 kg.
BACA JUGA:Tabel KUR BSI 2026 Pinjaman Rp 30 Juta: Simulasi Cicilan Ringan, Syarat Mudah, Cocok untuk UMKM!
Apa Itu Berat Volumetrik?
Berat volumetrik dihitung berdasarkan ukuran kemasan.
Rumus yang umum digunakan untuk pengiriman darat maupun laut adalah:
Berat Volumetrik = (Panjang × Lebar × Tinggi) ÷ 4.000
Semua ukuran menggunakan satuan sentimeter (cm).
Contoh Perhitungan
Misalnya Anda mengirim keripik khas Palembang.
Spesifikasinya:
- Berat aktual: 1 kg
- Ukuran kardus: 40 cm × 40 cm × 30 cm