BACAKORAN.CO – Gelombang tinggi hingga mencapai 3,9–4 meter menerjang pesisir selatan Gunungkidul, khususnya Pantai Gesing, serta wilayah pesisir Jawa Tengah pada Selasa, 11 Agustus 2026.
Fenomena ini dipicu angin Monsun Australia yang kencang melintasi Samudra Hindia, menghasilkan gelombang alun (swell) berperiode panjang.
Dampaknya langsung menghentikan aktivitas perikanan tangkap dan pariwisata bahari setidaknya selama lima hari ke depan.
Edukator mitigasi bencana Daryono Perwira Sakti mengingatkan risiko run-up dan rip current yang mematikan.
Sebagaimana dibagikan di media sosial X @daryono_eq_talk pada 11 Agustus 2026, energi kinetik angin monsun terakumulasi menjadi swell yang bergerak konsisten ke daratan.
BACA JUGA:Begal Bidan di Sudirman Prabumulih Dibekuk, Akui Enam Aksi, Kaki Ditembus Peluru
Ketika mendekati topografi teluk sempit bertebing karang di Pantai Gesing, terjadi shoaling effect yang memusatkan tinggi dan daya hantam gelombang secara masif.
Penyebab Utama Monsun Australia dan Dinamika Samudra Hindia
Angin Monsun Australia (angin timuran) biasanya aktif pada musim kemarau.
Kali ini hembusannya cukup kencang di perairan terbuka Samudra Hindia bagian selatan Jawa.
Energi angin tersebut membangun gelombang alun berperiode panjang yang tidak langsung terlihat di laut lepas, namun semakin tinggi saat mendekati pantai dangkal.
BACA JUGA:Simpel! Begini Cara Buruh Tani Dapatkan Alsintan
Data BMKG menunjukkan gelombang di perairan selatan DIY dan Jawa Tengah mencapai kategori tinggi (2,5–4 meter), bahkan sempat tercatat 3,9 meter di pagi hari dan sekitar 3,2–3,6 meter pada sore hari.
Peringatan dini BMKG juga mencakup potensi gelombang 4–6 meter di Samudra Hindia selatan DIY dan Jateng untuk periode 11–14 Agustus 2026.
“Gelombang tinggi di pesisir selatan Gunungkidul (Pantai Gesing) dan Jawa Tengah dipicu angin Monsun Australia yang berembus kencang melintasi perairan terbuka Samudera Hindia,” ujar Daryono Perwira Sakti melalui unggahannya di X.
Sebagaimana dikutip dari akun X @daryono_eq_talk pada tanggal 11 Agustus 2026, fenomena ini juga berpotensi memicu arus balik (rip current) yang sangat berbahaya bagi wisatawan yang berenang atau berdiri di bibir pantai.