Kabupaten seperti Ketapang, Kotawaringin Timur, dan sekitarnya sering tercatat sebagai lokasi dengan hotspot terbanyak.
Luas indikatif lahan yang terbakar di Kalimantan Barat saja sudah mencapai puluhan ribu hektare hingga akhir Juli 2026, menurut catatan Walhi dan BNPB.
Sebagian besar hotspot (sekitar 74 persen menurut analisis spasial Walhi Januari–Juli 2026) berada di dalam area konsesi perusahaan, meliputi HGU perkebunan kelapa sawit, konsesi pertambangan, dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan (PBPH).
BACA JUGA:Panjat Tiang Bendera Setinggi 12 Meter, Rizki Selamatkan Pengibaran Merah Putih
“Deteksi dini dan respons cepat menjadi kunci agar api dapat segera dikendalikan,” ujar Kepala Pelaksana BPB-PK Provinsi Kalimantan Tengah Ahmad Toyib dalam keterangan resmi.
Dampak Langsung terhadap Kesehatan dan Kehidupan Warga
Kabut asap pekat telah menurunkan kualitas udara di Pontianak, Palangkaraya, dan sejumlah kota lainnya hingga kategori tidak sehat hingga berbahaya menurut data IQAir.
Anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan menjadi kelompok paling rentan.
Banyak warga melaporkan peningkatan kasus ISPA.
Di beberapa daerah, sekolah menerapkan pembelajaran daring untuk melindungi siswa.
Penerbangan sempat terganggu, dan akses air bersih mulai sulit di lokasi terdampak parah.
Pengalaman langsung warga tercermin dalam komentar netizen.
“Presidennya knp ga turun tangan sih. Gedeg bangett,” tulis @bunnysnowie_ menanggapi postingan viral tersebut.
“Sebagian besar kebakaran di Kalimantan dipicu oleh tindakan manusia, baik sengaja maupun karena kelalaian,” tulis @JadineGood.
BACA JUGA:Sering Beri Uang Perempuan, Pria Ini Malah Merasa Dipermainkan, Emosi Cabut Badik
“Sedih banget Ya Allah. Kalimantan kebakaran dimana-mana. Kabut pekat, air bersih mulai susah, banyak penerbangan di cancel,” tulis @gimbot75.
Musim kemarau panjang dan El Nino kuat memperburuk kekeringan lahan gambut yang sangat mudah terbakar.