BACAKORAN.CO - Dolar AS melemah tajam dan mencapai level terendah sejak pertengahan Mei 2026 setelah Departemen Tresuri AS memperbesar program pembelian kembali obligasi jangka panjang. Di Indonesia, Bank Indonesia mempertahankan BI-Rate 5,75 persen, sementara pasar juga mencermati risiko inflasi global dan arah kebijakan bank sentral.
Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar keuangan global masih sangat sensitif terhadap perubahan imbal hasil obligasi, kebijakan moneter, inflasi, serta kondisi geopolitik.
BACA JUGA:USD Menguat, Yen Jepang Mendekati 160 per Dolar: Pasar Waspadai Intervensi Tokyo
Mengapa Dolar AS Melemah Tajam?
Pelemahan dolar AS terjadi setelah Treasury AS mengumumkan peningkatan pembelian kembali surat utang berjangka panjang.
Langkah tersebut ditujukan untuk membantu meningkatkan likuiditas dan meredakan tekanan di pasar obligasi AS.
Reuters melaporkan Treasury akan menggandakan ukuran buyback obligasi jangka panjang. Kebijakan itu ikut mendorong penurunan imbal hasil Treasury dan menekan dolar AS.
Imbal hasil Treasury 30 tahun sebelumnya sempat mencapai sekitar 5,33 persen, level tertinggi dalam beberapa tahun.
Setelah pengumuman tersebut, imbal hasil turun dan dolar ikut kehilangan daya tarik terhadap sejumlah mata uang utama.
Apa Dampak Treasury Buyback terhadap Pasar?
Secara sederhana, pembelian kembali obligasi dapat meningkatkan permintaan terhadap surat utang tertentu.
Ketika harga obligasi naik, imbal hasil atau yield cenderung turun. Penurunan yield tersebut kemudian dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar.
BACA JUGA:USD Melemah, Rupiah Menguat ke Level Rp17.830 per Dolar AS: Simak Kurs Bank Hari Ini
Dampaknya terlihat pada sejumlah pasar:
| Indikator | Pergerakan |
|---|---|
| Dolar AS | Melemah |
| Treasury jangka panjang | Menguat |
| Yield obligasi jangka panjang | Turun |
| Emas | Menguat |
| Mata uang utama | Cenderung menguat terhadap USD |