FAKTA 3: 40 Ribu Lebih Korban Keracunan — Harga yang Terlalu Mahal
Jika pemborosan anggaran saja sudah cukup memalukan, catatan keracunan massal menjadikannya jauh lebih tragis. Data Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) hingga awal Agustus 2026 mencatat: lebih dari 40.759 orang mayoritas siswa sekolah jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan MBG. Kasus ini menyebar ke 36 provinsi di seluruh Indonesia.
Kasus terbesar terjadi pada Juli 2026 di Kota Semarang: 707 orang (693 siswa dan 14 guru) mengalami keracunan secara bersamaan. Hanya beberapa hari kemudian, Kabupaten Jayapura melaporkan 543 korban. Penyebabnya berulang sama: kontaminasi bakteri E. coli, Staphylococcus aureus, penyimpanan makanan yang salah, hingga bahan kadaluwarsa.
Ini bukan lagi sekadar pemborosan uang negara. Ini adalah ancaman nyawa bagi anak-anak Indonesia yang seharusnya dilindungi oleh program ini.
FAKTA 4: Kata "Kualitas" vs Realitas di Lapangan
Pada Juli 2026, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Agustina Arumsari menyatakan dengan bangga bahwa Presiden Prabowo "tak lagi targetkan angka, fokus utamakan kualitas". Pernyataan ini disampaikan bersamaan dengan pemangkasan anggaran dari Rp 268 triliun menjadi Rp 229 triliun.