Hal ini penting karena kendaraan bukan hanya dinilai dari kondisi fisiknya, tetapi juga dari status dan biaya layanan baterainya.
Mana yang Lebih Cocok?
Skema sewa baterai lebih menarik bagi konsumen yang ingin menekan modal awal, membutuhkan kendaraan untuk periode tertentu, serta ingin mengurangi risiko biaya penggantian baterai.
Sementara itu, baterai milik sendiri lebih cocok bagi konsumen yang mempunyai dana awal cukup dan berencana menggunakan motor dalam jangka panjang tanpa ingin terbebani biaya langganan setiap bulan.
Untuk menentukan pilihan, konsumen dapat menghitung titik impas. Misalnya, selisih harga baterai adalah Rp12 juta dan biaya sewa Rp200.000 per bulan. Maka titik impas sederhananya adalah:
Rp12 juta ÷ Rp200.000 = 60 bulan.
Artinya, setelah lima tahun, akumulasi biaya sewanya setara dengan selisih harga tersebut.
Tidak ada pilihan yang mutlak lebih murah untuk semua orang. Baterai tanam menawarkan kepemilikan penuh dan tidak membutuhkan biaya sewa bulanan, tetapi konsumen harus siap menanggung risiko biaya penggantian baterai setelah garansi.
Sebaliknya, sewa baterai menawarkan modal awal lebih ringan dan berpotensi mengurangi risiko terkait baterai, tetapi biaya langganan akan terus berjalan selama layanan digunakan.
Karena itu, sebelum membeli motor listrik, jangan hanya membandingkan harga di brosur. Hitung seluruh biaya selama kendaraan digunakan, mulai dari pembelian, listrik, perawatan, baterai, hingga nilai jual kembali.
Dengan menghitung TCO, konsumen dapat mengetahui apakah beli baterai atau sewa baterai benar-benar lebih hemat untuk kebutuhan mereka. (Ase Erlina)