JPY Menguat, USD/IDR Bergerak 17.880-17.950: Cek Kurs Hari Ini
Senin 28 Sep 2026 - 15:00 WIB
Reporter : djarwo
Editor : djarwo
BACAKORAN.CO - Pergerakan pasar valuta asing kembali dipengaruhi kebijakan bank sentral dan perkembangan geopolitik. JPY menguat setelah Jepang dan AS kembali membahas pelemahan yen, sementara dolar AS tetap mendapat dukungan dari ekspektasi suku bunga tinggi.
Untuk perdagangan USD/IDR hari ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran 17.880-17.950. Level support berada di 17.862 dan 17.882, sedangkan resistance berada di 17.936 dan 17.970.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Menguat Usai The Fed Naikkan Suku Bunga
JPY Menguat Setelah Jepang Bahas Pelemahan Yen
Yen mendapat perhatian setelah pejabat Jepang dan AS membahas kondisi nilai tukar.
Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengatakan Presiden AS Donald Trump menyampaikan kekhawatiran mengenai pelemahan yen dalam pertemuannya dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.
Takaichi juga menyampaikan pandangan bahwa yen yang terlalu lemah menjadi persoalan. Jepang dan AS sebelumnya telah menyatakan komitmen untuk menghindari pergerakan nilai tukar yang berlebihan dan tidak teratur.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor yang diperhatikan pelaku pasar dalam pergerakan JPY terhadap USD.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Dolar AS Menguat Jelang FOMC dan Harga Minyak Naik
Pada data kurs yang digunakan hari ini, JPY tercatat:
| Mata Uang |
Kurs 1 |
Kurs 2 |
| JPY |
Rp113,06 |
Rp113,98 |
Sementara berdasarkan pasangan internasional pada data V2, USD/JPY berada di sekitar 157,96-157,65.
USD Tetap Didukung Ekspektasi Suku Bunga The Fed
Dolar AS masih mendapat dukungan dari ekspektasi kebijakan moneter yang relatif ketat.
Sejumlah pejabat Federal Reserve menyoroti ketahanan pertumbuhan ekonomi. Kondisi pasar tenaga kerja juga menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi keputusan suku bunga berikutnya.
Presiden Federal Reserve Bank of Cleveland Beth Hammack mengatakan kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS lebih banyak mencerminkan kenaikan real yields dibanding lonjakan ekspektasi inflasi.
Menurut Hammack, prospek ekonomi yang solid, investasi teknologi yang kuat, dan penyesuaian pasar terhadap prospek kebijakan moneter ikut memengaruhi pergerakan imbal hasil obligasi.
Kondisi tersebut menjadi perhatian pasar karena kenaikan Treasury yields dapat memengaruhi daya tarik aset berdenominasi dolar.
BACA JUGA:Dolar AS Menguat, Rupiah Bertahan di Rp17.730 per USD
Australia Bersiap Menghadapi Keputusan RBA
Perhatian pasar juga tertuju pada Reserve Bank of Australia (RBA).
RBA dijadwalkan mengumumkan keputusan kebijakan moneternya pada 29 September 2026. Pasar dan ekonom memperkirakan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Jika terealisasi, suku bunga Australia akan naik menjadi sekitar 4,60 persen.
Inflasi menjadi salah satu alasan utama yang diperhatikan pasar. Kenaikan harga energi akibat konflik di Timur Tengah juga menjadi risiko terhadap prospek inflasi.
Pergerakan AUD kemudian berpotensi dipengaruhi oleh keputusan RBA dan pandangan bank sentral mengenai kebijakan berikutnya.
Dalam data kurs yang digunakan:
AUD berada di Rp12.520-Rp12.617.
Sementara data V2 mencatat AUD sekitar 0,7010-0,7021 terhadap USD.
BACA JUGA:Kurs Dolar AS Hari Ini Menguat, JPY Tembus 160 per USD dan Harga Emas Capai US$4.453
Selat Hormuz Masih Menjadi Risiko Pasar
Faktor geopolitik juga menjadi perhatian utama.
Iran sebelumnya menyampaikan proposal yang memungkinkan Selat Hormuz dibuka kembali dalam tujuh hari jika sejumlah persyaratan terpenuhi. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan proposal tersebut telah disampaikan melalui mediator.
Namun, perkembangan berikutnya menunjukkan Presiden Donald Trump menolak proposal tersebut. Reuters melaporkan Trump mengatakan tawaran Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz dan mengakhiri konflik tidak dapat diterima.
Ketidakpastian tersebut tetap menjadi faktor penting bagi pasar energi.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis perdagangan energi global. Gangguan terhadap jalur tersebut dapat meningkatkan kekhawatiran mengenai pasokan minyak.
Pada data pasar hari ini, harga minyak mentah tercatat:
Crude Oil: 93,54, turun 0,58 poin atau 0,62 persen.
BACA JUGA:Dolar AS Makin Rapuh! Utang AS dan Geopolitik Jadi Beban, Rupiah Berpeluang Menguat?
Harga Emas Turut Melemah
Harga emas juga mengalami penurunan tipis.
Data yang digunakan mencatat:
XAU: 4.266,10, turun 4,96 poin atau 0,12 persen.
Pergerakan emas tetap dipengaruhi kombinasi dolar AS, imbal hasil obligasi, ekspektasi suku bunga, serta risiko geopolitik.
Ketika imbal hasil aset berbasis dolar meningkat, emas dapat menghadapi tekanan karena emas tidak memberikan imbal hasil bunga.
Namun, ketegangan geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset lindung nilai. Karena itu, arah emas dapat berubah mengikuti perkembangan pasar global.
Kurs Mata Uang Asing Hari Ini
Berikut data kurs V1 yang menjadi acuan:
| Mata Uang |
Kurs 1 |
Kurs 2 |
| USD |
Rp17.880 |
Rp17.950 |
| SGD |
Rp13.961 |
Rp14.059 |
| HKD |
Rp2.276,78 |
Rp2.291,36 |
| CHF |
Rp21.515 |
Rp21.677 |
| JPY |
Rp113,06 |
Rp113,98 |
| CAD |
Rp12.610 |
Rp12.698 |
| CNY |
Rp2.650,36 |
Rp2.681,52 |
| THB |
Rp531,59 |
Rp539,44 |
| SAR |
Rp4.755,94 |
Rp4.787,27 |
| KRW |
Rp13,05 |
Rp13,48 |
| MYR |
Rp4.372,62 |
Rp4.413,06 |
| GBP |
Rp23.629 |
Rp23.794 |
| AUD |
Rp12.520 |
Rp12.617 |
| NZD |
Rp10.098 |
Rp10.178 |
| EUR |
Rp20.325 |
Rp20.468 |
Kurs dapat berbeda berdasarkan sumber, waktu transaksi, serta jenis transaksi yang digunakan.
Proyeksi USD/IDR Hari Ini
Berdasarkan data teknikal yang diberikan, rupiah kemarin bergerak pada kisaran 17.890-17.945.
USD/IDR kemudian ditutup di sekitar 17.900-17.905.
Untuk perdagangan hari ini, USD/IDR diperkirakan bergerak dalam rentang:
17.880-17.950.
Level teknikal yang perlu diperhatikan:
| Level |
Posisi |
| S2 |
17.862 |
| S1 |
17.882 |
| R1 |
17.936 |
| R2 |
17.970 |
| Range mingguan |
17.600-18.100 |
Strategi harian yang tercantum dalam data pasar adalah buy at 17.880 dengan target 17.950.
Strategi tersebut merupakan skenario teknikal dari sumber data yang diberikan, bukan jaminan pergerakan harga.
Apa yang Perlu Dipantau Investor?
Ada beberapa agenda yang berpotensi memengaruhi pasar valuta asing dalam waktu dekat.
Pertama, keputusan RBA pada 29 September dan pandangannya terhadap inflasi. Kedua, perkembangan ekspektasi suku bunga Federal Reserve.
Ketiga, perkembangan hubungan AS-Iran dan kondisi Selat Hormuz. Perubahan risiko geopolitik dapat memengaruhi minyak, inflasi, obligasi, serta mata uang secara bersamaan.
Sementara itu, perkembangan kebijakan Jepang terhadap pelemahan yen juga akan menjadi perhatian pasar.
Kesimpulan
Pasar valuta asing berada di tengah kombinasi faktor moneter dan geopolitik.
JPY mendapat dukungan setelah isu pelemahan yen kembali dibahas Jepang dan AS, sedangkan USD tetap dipengaruhi ekspektasi kebijakan The Fed.
Di Australia, pasar menunggu keputusan RBA pada 29 September yang diperkirakan membawa kenaikan 25 basis poin. Sementara itu, ketidakpastian Selat Hormuz tetap menjadi risiko bagi harga energi dan inflasi global.
Untuk USD/IDR, data teknikal menunjukkan kisaran 17.880-17.950, dengan support 17.882 dan resistance 17.936.
Kategori :