Dolar AS Menguat, Rupiah Bertahan di Rp17.730 per USD
Dolar AS Menguat, Rupiah Bertahan di Rp17.730 per USD.--gemini--
Bacakoran.co, Palembang – Dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap sejumlah mata uang utama pada perdagangan kemarin. Penguatan tersebut didorong permintaan aset safe haven di tengah kenaikan harga minyak dunia dan aksi jual di pasar obligasi.
Sentimen pasar juga dipengaruhi kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran yang ditandai dengan aksi saling serang. Kondisi tersebut mendorong investor meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman, termasuk dolar AS.
The Fed Beri Sinyal Bisa Naikkan Suku Bunga
Anggota Dewan Gubernur Federal Reserve, Michael Barr, mengatakan bank sentral AS harus bersiap menaikkan suku bunga apabila tekanan inflasi tidak kunjung mereda.
Barr memperingatkan tekanan harga berisiko semakin mengakar setelah inflasi AS berada di atas target The Fed selama lebih dari lima tahun.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena arah kebijakan suku bunga The Fed sangat berpengaruh terhadap pergerakan dolar AS dan pasar keuangan global.
Data Tenaga Kerja AS Jadi Perhatian
Pasar kini menunggu data tenaga kerja AS yang akan dirilis pada Jumat.
Data tersebut diperkirakan menjadi salah satu petunjuk penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan suku bunga berikutnya.
Perhatian investor semakin besar karena inflasi AS masih berada di atas target The Fed sebesar 2 persen.
Jika data tenaga kerja menunjukkan ekonomi AS masih kuat, peluang kebijakan moneter ketat dapat kembali menjadi perhatian pasar.
BACA JUGA:Kurs Dolar Hari Ini: Rupiah Menguat ke Rp18.060 usai The Fed Tahan Suku Bunga
Rupiah Stabil di Sekitar Rp17.730 per USD
Di dalam negeri, rupiah diperdagangkan di kisaran Rp17.730 per dolar AS pada perdagangan kemarin.
Nilai tersebut tidak banyak berubah dibandingkan sesi sebelumnya karena pelaku pasar mempertimbangkan sejumlah sinyal ekonomi domestik.
Salah satunya berasal dari perkembangan inflasi Indonesia. Tingkat inflasi tahunan pada Agustus tercatat 3,19 persen, meningkat dari 2,28 persen pada Juli.