BACA KORAN.CO – Nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) kembali mendapat dukungan di tengah meningkatnya ketidakpastian hubungan Washington dan Iran.
Pesimisme terhadap kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz ikut menopang harga minyak dan meningkatkan kekhawatiran inflasi. Kondisi tersebut turut membuat pasar mencermati kemungkinan kebijakan suku bunga The Fed berikutnya.
Di dalam negeri, Bank Indonesia (BI) mengurangi porsi intervensi langsung melalui pasar spot. Gubernur BI Destry Damayanti menyebut porsinya kini sekitar 30 persen dari total intervensi valuta asing.
Sementara itu, kurs USD dalam data perdagangan yang digunakan hari ini berada di kisaran Rp17.940-Rp18.000.
Iran Pesimis Kesepakatan Hormuz Tercapai Sebelum Pemilu AS
Pejabat Iran secara pribadi dilaporkan pesimistis kesepakatan dengan Washington dapat tercapai sebelum pemilu sela Amerika Serikat pada November.
Pembicaraan di New York disebut belum menghasilkan kemajuan berarti. Kedua pihak masih menghadapi persoalan kepercayaan dan perbedaan tuntutan.
Iran menginginkan pelonggaran sanksi. Amerika Serikat menuntut komitmen terkait isu nuklir serta pembukaan kembali Selat Hormuz.
Laporan terbaru menyebut Iran juga memperkirakan risiko konflik meningkat setelah pemungutan suara 3 November.
Ketidakpastian tersebut menjadi perhatian pasar energi. Minyak mentah kembali naik karena harapan pembukaan Hormuz dalam waktu dekat memudar.
BACA JUGA:Dolar AS Melemah Usai Inflasi Turun, Rupiah Berpeluang Menguat di Tengah Outlook Stabil Indonesia
Lisa Cook Soroti Risiko Inflasi dari AI
Perkembangan teknologi kecerdasan buatan juga menjadi perhatian The Fed.
Gubernur The Fed Lisa Cook mengatakan peningkatan produktivitas dari AI belum tentu cukup untuk mengimbangi tekanan harga.
Menurut Cook, pembangunan infrastruktur AI dapat meningkatkan permintaan terhadap sejumlah barang dan jasa. Kebutuhan chip, komputer, perangkat lunak, energi, dan tenaga kerja konstruksi dapat menambah tekanan biaya.
Cook menilai kenaikan produktivitas memang berpotensi membantu menekan inflasi. Namun, dampaknya belum tentu cukup untuk menghilangkan tekanan harga dalam waktu dekat.
Pandangan tersebut menjadi relevan ketika pasar masih mencermati arah suku bunga Amerika Serikat.
BACA JUGA:Dolar AS Dibayangi Konflik AS-Iran dan Data Inflasi, Harga Emas Tetap Tinggi Meski Minyak Menguat
BI Kurangi Intervensi Spot Jadi 30 Persen
Di Indonesia, BI mengubah komposisi intervensi valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah.
Destry Damayanti mengatakan intervensi melalui pasar spot kini hanya sekitar 30 persen dari total intervensi.
BI mengurangi penggunaan pasar spot karena instrumen tersebut membutuhkan biaya lebih besar dan berdampak terhadap penggunaan cadangan devisa.
Sebagai alternatif, BI meningkatkan penggunaan instrumen seperti Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) dan Non-Deliverable Forward (NDF).
Langkah tersebut tidak berarti BI berhenti menjaga rupiah. Bank sentral tetap menempatkan stabilitas nilai tukar sebagai salah satu fokus kebijakannya.
EUR Tertekan Dekati Level Terendah Dua Bulan
Euro (EUR) juga berada dalam tekanan terhadap USD.
EUR diperdagangkan mendekati level terlemah dalam dua bulan. Pergerakan tersebut terjadi ketika dukungan terhadap dolar semakin kuat.
Salah satu faktornya adalah memudarnya optimisme terhadap perkembangan pembicaraan Amerika Serikat dan Iran.
Pasar juga kembali mencermati peluang kenaikan suku bunga The Fed berikutnya.
Kondisi tersebut membuat USD relatif lebih menarik dibandingkan sejumlah mata uang utama lainnya.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini Tertekan, Dolar AS Menguat Jelang FOMC dan Harga Minyak Naik
BOJ Mulai Bahas Kenaikan Suku Bunga Lebih Cepat
Bank Sentral Jepang (BOJ) juga menghadapi tekanan inflasi.
Risalah rapat kebijakan BOJ pada 30-31 Juli menunjukkan sejumlah anggota mulai melihat perlunya perhatian lebih besar terhadap risiko kenaikan harga.
Bahkan, beberapa anggota menyuarakan kemungkinan mempercepat kenaikan suku bunga.
Risalah tersebut dirilis BOJ pada 28 September 2026. Dalam dokumen itu, sejumlah anggota menilai risiko menunggu terlalu lama mulai meningkat.
Perkembangan tersebut menjadi penting bagi yen. Sebab, arah suku bunga BOJ akan memengaruhi selisih imbal hasil Jepang dengan negara-negara lain.
Kurs Mata Uang Hari Ini
Berikut data kurs Bank Buy dan Bank Sell yang menjadi acuan dalam materi perdagangan hari ini:
| Mata Uang | Bank Buy | Bank Sell |
|---|---|---|
| USD | Rp17.940 | Rp18.000 |
| SGD | Rp14.019 | Rp14.109 |
| HKD | Rp2.284,17 | Rp2.297,44 |
| CHF | Rp21.515 | Rp21.664 |
| JPY | Rp113,74 | Rp114,60 |
| CAD | Rp12.630 | Rp12.711 |
| CNY | Rp2.665,51 | Rp2.693,77 |
| THB | Rp530,94 | Rp538,44 |
| SAR | Rp4.771,92 | Rp4.800,59 |
| KRW | Rp13,09 | Rp13,51 |
| MYR | Rp4.378,74 | Rp4.416,66 |
| GBP | Rp23.728 | Rp23.880 |
| AUD | Rp12.555 | Rp12.645 |
| NZD | Rp10.134 | Rp10.210 |
| EUR | Rp20.359 | Rp20.491 |