PALEMBANG, BACAKORAN.CO – Pasar keuangan global kembali mencermati arah kebijakan bank sentral utama dunia setelah pejabat Federal Reserve (Fed) mendorong pelaku pasar untuk tidak terlalu cepat memperkirakan kenaikan suku bunga pada pertemuan Oktober.
Pejabat Fed menekankan perlunya melihat lebih banyak data ekonomi sebelum menentukan langkah kebijakan moneter berikutnya. Pernyataan tersebut membuat ekspektasi pasar terhadap perubahan suku bunga kembali menjadi perhatian.
Di Jepang, inflasi inti tahunan pada September meningkat. Kondisi ini menunjukkan tekanan harga yang masih menguat dan berpotensi memperkuat alasan bagi Bank of Japan (BoJ) untuk melanjutkan normalisasi kebijakan moneternya.
Namun, di sisi lain, permintaan domestik Jepang mengalami kontraksi. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena dapat mengganggu momentum pemulihan ekonomi secara keseluruhan.
BACA JUGA:Modal Kecil Dijanjikan Untung Besar, Jangan Sampai Terjebak Investasi Bodong
Pasar Turunkan Ekspektasi Kenaikan Suku Bunga BoJ
Dengan mempertimbangkan tekanan inflasi sekaligus pelemahan permintaan domestik, pelaku pasar menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ pada pertemuan 30 Oktober mendatang.
Situasi tersebut membuat pasar harus menimbang dua indikator yang bergerak berlawanan, yakni tekanan inflasi yang meningkat dan aktivitas domestik yang melemah.
Perkembangan kebijakan BoJ menjadi salah satu perhatian pasar valuta asing karena perubahan suku bunga Jepang dapat memengaruhi arus modal dan pergerakan mata uang regional.
BACA JUGA:Jangan Masukkan Uangmu Dulu! Investasi yang Terlihat Aman Ternyata Menyimpan Risiko Besar
Manufaktur Kanada Tertekan
Dari Kanada, sektor manufaktur juga menunjukkan pelemahan dan berada pada level terendah dalam enam bulan.
Meningkatnya harga energi serta tekanan dari tarif perdagangan menjadi faktor yang membebani sektor manufaktur. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran terhadap perlambatan prospek pertumbuhan ekonomi Kanada.
Perkembangan ekonomi Kanada menjadi perhatian pasar karena turut memengaruhi ekspektasi kebijakan moneter dan pergerakan dolar Kanada terhadap mata uang utama.
BACA JUGA:Investasi Emas untuk Anak, Begini Cara Menghitung Keuntungannya
BI Tetap Jaga Stabilitas Rupiah
Di dalam negeri, Gubernur Bank Indonesia menyatakan bahwa bank sentral tetap berkomitmen menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Namun, strategi intervensi akan mengalami penyesuaian. Bank Indonesia akan mengurangi intensitas intervensi langsung di pasar spot dan meningkatkan pemanfaatan instrumen derivatif.
Kebijakan tersebut menjadi bagian dari strategi stabilisasi rupiah ketika tekanan terhadap pasar valuta asing masih tinggi.
BACA JUGA:Kurs Rupiah Hari Ini: Dolar AS Menguat Usai The Fed Naikkan Suku Bunga
Kurs Mata Uang Hari Ini
Berikut kurs KURS V1 berdasarkan data yang tersedia:
| Mata Uang | Bank Buy | Bank Sell |
|---|---|---|
| USD | Rp17.935 | Rp17.995 |
| SGD | Rp13.974 | Rp14.064 |
| HKD | Rp2.282,89 | Rp2.296,16 |
| CHF | Rp21.522 | Rp21.671 |
| JPY | Rp113,15 | Rp114,01 |
| CAD | Rp12.585 | Rp12.665 |
| CNY | Rp2.661,28 | Rp2.690,29 |
| THB | Rp529,87 | Rp537,36 |
| SAR | Rp4.770,84 | Rp4.799,26 |
| KRW | Rp13,04 | Rp13,46 |
| MYR | Rp4.376,98 | Rp4.413,81 |
| GBP | Rp23.614 | Rp23.765 |
| AUD | Rp12.385 | Rp12.474 |
| NZD | Rp10.011 | Rp10.087 |
| EUR | Rp20.119 | Rp20.251 |