bacakoran.co - ketika membeli mobil, kebanyakan orang lebih banyak mengandalkan review otomotif yang membahas performa, fitur, dan kenyamanan.
namun, ada satu aspek krusial yang sering terlewatkan, yaitu biaya depresiasi.
depresiasi adalah penurunan nilai kendaraan dari waktu ke waktu, dan faktanya, inilah biaya terbesar yang harus ditanggung pemilik selama masa kepemilikan.
memahami depresiasi sangat penting agar konsumen dapat membuat keputusan yang lebih bijak, terutama jika tujuan membeli mobil bukan sekadar gaya hidup, melainkan juga investasi jangka panjang.
data dan metodologi
untuk meneliti fenomena ini, sebuah tim mengumpulkan data harga puluhan merek mobil dari tahun 2015, 2020, hingga 2024.
analisis mencakup berbagai kategori, mulai dari mobil mewah seperti mercedes-benz dan bmw, mobil listrik seperti hyundai ioniq dan wuling, hingga mobil populer yang banyak digunakan masyarakat seperti toyota avanza, toyota calya, honda brio, mitsubishi xpander, dan mitsubishi pajero.
hasilnya cukup mengejutkan: ada mobil yang nilainya tinggal 24% dari harga awal setelah sembilan tahun, sementara ada juga yang masih mampu bertahan hingga 65%.
variasi ini menunjukkan betapa pentingnya memahami tren depresiasi sebelum memutuskan membeli kendaraan.
mobil mewah: depresiasi tinggi
kategori mobil luxury menunjukkan depresiasi paling tajam.
mercedes-benz s-class, misalnya, yang dijual rp2,3 miliar pada 2015, hanya bernilai sekitar rp720 juta di 2024.
artinya, nilai mobil ini menyusut hampir 69% dalam sembilan tahun.
bmw juga mengalami hal serupa. bmw 3 series yang awalnya rp740 juta kini hanya bernilai rp323 juta, sementara bmw 7 series dari rp2,8 miliar turun menjadi sekitar rp600 juta.
kesimpulannya, mobil mewah bukanlah pilihan bijak jika tujuan utama adalah mempertahankan nilai jual kembali.
mobil seperti mercedes-benz c-class relatif lebih baik karena mampu bertahan di angka 51%, tetapi secara umum, luxury car lebih cocok untuk kolektor atau mereka yang tidak terlalu peduli dengan kerugian finansial akibat depresiasi.
mobil populer: “satu juta umat” yang lebih menguntungkan
berbeda dengan mobil mewah, mobil-mobil populer seperti toyota avanza, calya, honda brio, dan mitsubishi xpander menunjukkan performa depresiasi yang jauh lebih baik.
toyota calya tipe g tahun 2016 misalnya, dari harga rp150 juta masih bernilai rp108 juta setelah delapan tahun, atau sekitar 72% dari harga awal.
toyota avanza juga mampu mempertahankan 74% dari nilai awalnya.
honda brio bahkan menunjukkan tren positif, dengan resale value yang lebih tinggi dibanding harga awal di beberapa kasus.
mitsubishi xpander dari tahun 2017 masih bertahan di 82% dari harga awal. mobil-mobil ini jelas lebih menguntungkan bagi konsumen yang ingin kendaraan dengan nilai residual tinggi dan depresiasi rendah.
sedan vs suv
perbandingan antara sedan dan suv juga menarik. sedan seperti toyota camry, honda civic, dan accord mengalami depresiasi lebih tinggi, dengan nilai jual kembali hanya sekitar 39–51% dari harga awal.
sebaliknya, suv premium seperti bmw x3, x5, dan mercedes-benz gle menunjukkan depresiasi lebih stabil, dengan nilai residual sekitar 36–41%.
hal ini mencerminkan tren pasar yang lebih menyukai suv karena dianggap lebih praktis dan sesuai dengan kondisi jalan di indonesia.
mobil listrik: depresiasi ekstrem
mobil listrik saat ini menghadapi tantangan besar dalam hal depresiasi. hyundai ioniq 5, misalnya, yang dijual rp800 juta, hanya bernilai rp60 juta setelah dua tahun.
penurunan drastis ini terjadi karena teknologi ev berkembang sangat cepat, sehingga model lama cepat tertinggal.
selain itu, faktor infrastruktur dan kebijakan pemerintah juga memengaruhi nilai jual kembali mobil listrik.
faktor penyebab depresiasi
beberapa faktor utama yang memengaruhi depresiasi antara lain:
- jenis mobil: suv lebih stabil dibanding sedan.
- preferensi pasar: konsumen lebih memilih kendaraan praktis dengan ruang besar.
- teknologi: inovasi cepat pada mobil listrik membuat nilai jual kembali turun drastis.
- kondisi jalan dan infrastruktur: sedan kurang diminati di daerah dengan jalan tidak rata.
kesimpulan dan rekomendasi
dari data yang ada, jelas bahwa mobil mewah mengalami depresiasi tinggi dan lebih cocok untuk kolektor.
mobil populer seperti toyota dan honda justru menjadi pilihan paling aman karena nilai jual kembali tetap tinggi.
suv lebih stabil dibanding sedan, sementara mobil listrik masih menghadapi depresiasi ekstrem meski tren ini bisa berubah di masa depan.
bagi konsumen yang ingin membeli mobil dengan pertimbangan investasi, pilihan terbaik adalah mobil kategori “satu juta umat” yang terbukti tahan depresiasi.
sebaliknya, bagi pecinta mobil mewah, membeli bmw atau mercedes-benz bisa menjadi hobi, tetapi harus siap dengan konsekuensi finansial yang besar.