Review Mobil Paling Boncos vs Paling Cuan Menurut Ahli Otomotif, Mana yang Paling Tahan Nilai Jualnya?
Analisis depresiasi mobil 2015–2024: BMW, Mercedes, Toyota, Honda, hingga mobil listrik. Mana yang paling tahan nilai jualnya?/Kolase Bacakoran.co--Auto2000 dan Germain Honda of Ann Arbor
Kesimpulannya, mobil mewah bukanlah pilihan bijak jika tujuan utama adalah mempertahankan nilai jual kembali.
Mobil seperti Mercedes-Benz C-Class relatif lebih baik karena mampu bertahan di angka 51%, tetapi secara umum, luxury car lebih cocok untuk kolektor atau mereka yang tidak terlalu peduli dengan kerugian finansial akibat depresiasi.
Mobil Populer: “Satu Juta Umat” yang Lebih Menguntungkan
Berbeda dengan mobil mewah, mobil-mobil populer seperti Toyota Avanza, Calya, Honda Brio, dan Mitsubishi Xpander menunjukkan performa depresiasi yang jauh lebih baik.
Toyota Calya tipe G tahun 2016 misalnya, dari harga Rp150 juta masih bernilai Rp108 juta setelah delapan tahun, atau sekitar 72% dari harga awal.
Toyota Avanza juga mampu mempertahankan 74% dari nilai awalnya.
Honda Brio bahkan menunjukkan tren positif, dengan resale value yang lebih tinggi dibanding harga awal di beberapa kasus.
Mitsubishi Xpander dari tahun 2017 masih bertahan di 82% dari harga awal. Mobil-mobil ini jelas lebih menguntungkan bagi konsumen yang ingin kendaraan dengan nilai residual tinggi dan depresiasi rendah.
Sedan vs SUV
BACA JUGA:Suzuki Jimny 3 AT 4x4 SUV Off-Road Ikonik Termurah: Rakitan Jepang, Mesin Tangguh
BACA JUGA:All New Maruti Suzuki FRONX 2026, SUV Bergaya Modern dengan Lampu LED dan Interior Nyaman
Perbandingan antara sedan dan SUV juga menarik. Sedan seperti Toyota Camry, Honda Civic, dan Accord mengalami depresiasi lebih tinggi, dengan nilai jual kembali hanya sekitar 39–51% dari harga awal.
Sebaliknya, SUV premium seperti BMW X3, X5, dan Mercedes-Benz GLE menunjukkan depresiasi lebih stabil, dengan nilai residual sekitar 36–41%.
Hal ini mencerminkan tren pasar yang lebih menyukai SUV karena dianggap lebih praktis dan sesuai dengan kondisi jalan di Indonesia.
Mobil Listrik: Depresiasi Ekstrem
Mobil listrik saat ini menghadapi tantangan besar dalam hal depresiasi. Hyundai Ioniq 5, misalnya, yang dijual Rp800 juta, hanya bernilai Rp60 juta setelah dua tahun.
Penurunan drastis ini terjadi karena teknologi EV berkembang sangat cepat, sehingga model lama cepat tertinggal.
Selain itu, faktor infrastruktur dan kebijakan pemerintah juga memengaruhi nilai jual kembali mobil listrik.