Dugaan Child Grooming Roby Tremonti Mencuat Usai Buku Broken String Karya Aurelie Moeremans
Nama Roby Tremonti terseret dugaan child grooming setelah buku Broken String karya Aurelie Moeremans ramai diperbincangkan publik.--
BACAKORAN.CO - Nama Roby Tremonti belakangan menjadi sorotan tajam publik setelah muncul dugaan keterlibatannya dalam kasus child grooming yang dialami aktris dan penulis Aurelie Moeremans.
Isu ini kembali mencuat seiring rilis buku berjudul Broken String, karya Aurelie sendiri, yang kini ramai dibicarakan di media sosial dan kalangan pembaca.
Dalam buku tersebut, Aurelie secara terbuka membagikan kisah pahit yang dialaminya saat masih berusia 15 tahun.
Ia mengungkap pengalaman traumatisnya sebagai korban kekerasan seksual dan manipulasi emosional oleh seorang pria yang ia sebut dengan nama samaran “Bobby”.
Cerita itu tidak hanya mengulas soal relasi asmara, tetapi juga menjelaskan secara rinci bagaimana proses child grooming terjadi secara perlahan dan sistematis.
Aurelie menggambarkan bahwa hubungan yang awalnya terlihat penuh perhatian dan kepedulian perlahan berubah menjadi hubungan yang sarat kontrol.
Manipulasi emosional, kekerasan fisik, hingga dugaan penyebaran foto pribadi menjadi bagian dari pengalaman kelam yang ia alami di usia yang sangat rentan.
Kisah tersebut pun menuai simpati luas dari publik, terutama karena disampaikan dari sudut pandang korban secara jujur dan emosional.
BACA JUGA:Polda Metro Jaya Bongkar Pabrik Senjata Api Ilegal di Sumedang, 5 Orang Ditangkap
Tak butuh waktu lama, warganet mulai mengaitkan sosok “Bobby” dalam buku Broken String dengan Roby Tremonti.
Dugaan ini muncul karena Roby diketahui pernah menjalin hubungan asmara dengan Aurelie Moeremans ketika sang aktris masih berusia di bawah umur, yakni sekitar 15 tahun.
Perbedaan usia yang cukup jauh antara keduanya turut memperkuat spekulasi publik.
Selain itu, sejumlah detail yang dituliskan Aurelie dalam bukunya dianggap sangat mirip dengan karakteristik Roby Tremonti.
BACA JUGA:Viral! Aurelie Moeremans Bongkar Kisah Grooming di Usia 15 Tahun Lewat Buku Broken Strings
Salah satu yang paling disorot adalah kebiasaan mengenakan rantai di celana, yang disebutkan dalam buku dan dinilai identik dengan gaya Roby di masa lalu.
Meski tidak pernah disebutkan secara eksplisit dalam buku, kesamaan-kesamaan tersebut membuat nama Roby terus diseret dalam perbincangan.
Kolom komentar media sosial Roby pun sempat ditutup, namun hal itu tidak menghentikan gelombang kritik dan kecaman dari warganet.
Puncak reaksi publik terlihat dalam unggahan Instagram film Tenung, yang dibintangi Roby Tremonti.
BACA JUGA:Korea Utara Tuding Pelanggaran Wilayah Udara, Tuntut Penjelasan Korea Selatan soal Drone Misterius
Unggahan tersebut dipenuhi komentar bernada kecaman, bahkan seruan boikot.
Banyak warganet secara terbuka menuliskan kemarahan dan kekecewaan mereka terhadap dugaan kasus tersebut.
Komentar seperti “Child grooming, sakit sih,” hingga “BOIKOT!” ramai memenuhi kolom komentar.
Tak sedikit pula yang menilai bahwa gaya dan perilaku Roby sangat sesuai dengan gambaran sosok “Bobby” dalam buku Aurelie.
BACA JUGA:Dicap Pendukung Anies, Pandji Pragiwaksono Justru Ungkap Fakta Mengejutkan di Mens Rea!
Menariknya, Roby Tremonti sempat membalas salah satu komentar warganet pada Minggu (11/1/2026).
Dalam balasannya, Roby menuding bahwa komentar negatif yang menyerangnya berasal dari buzzer.
Namun, pernyataan tersebut justru memicu respons lanjutan dari netizen yang menegaskan bahwa kritik mereka bukan pesanan, melainkan bentuk kepedulian terhadap korban kekerasan seksual di bawah umur.
Sejumlah warganet menegaskan bahwa trauma yang dialami korban tidak akan pernah hilang, dan kasus seperti ini layak mendapat perhatian serius, bukan justru dibantah dengan tudingan buzzer.
BACA JUGA:Rilis Memoar Broken Strings, Aurelie Moeremans Akui Pernah Jadi Korban Grooming Sejak Usia 15 Tahun
Kasus ini sekaligus membuka kembali diskusi luas tentang bahaya child grooming, terutama di industri hiburan.
Banyak pihak menilai keberanian Aurelie Moeremans menulis Broken String sebagai langkah penting untuk menyuarakan pengalaman korban dan meningkatkan kesadaran publik.
Hingga kini, belum ada pernyataan resmi atau proses hukum yang diumumkan terkait dugaan tersebut.
Namun, tekanan publik terhadap figur publik yang diduga terlibat terus menguat, seiring meningkatnya kepedulian masyarakat terhadap isu perlindungan anak dan kekerasan seksual.