100 Ton Ikan Salem Ilegal Nyaris Masuk RI, KKP Bongkar Modus Licik di Tanjung Priok!
100 Ton Ikan Salem Ilegal Nyaris Masuk RI, KKP Bongkar Modus Licik di Tanjung Priok!--WestJavaToday.com
BACAKORAN.CO - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menunjukkan komitmennya dalam menjaga kedaulatan pangan laut Indonesia dengan menggagalkan upaya masuknya ikan impor ilegal dalam jumlah besar.
Dalam konferensi pers yang digelar di Jakarta Pusat pada Selasa, 12 Januari 2026, Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Halid, mengungkapkan bahwa pihaknya berhasil menghentikan masuknya sekitar 100 ton ikan makarel pasifik beku atau yang lebih dikenal dengan sebutan ikan salem.
Komoditas tersebut diduga kuat masuk ke Indonesia tanpa izin resmi dan tanpa rekomendasi impor yang seharusnya dikeluarkan oleh KKP.
Halid menjelaskan bahwa kasus ini terungkap berawal dari laporan masyarakat yang mencurigai adanya aktivitas impor ikan dalam jumlah besar di Terminal Peti Kemas Tanjung Priok.
BACA JUGA:Anak Titipan Dinas Sosial Lubuklinggau Dianiaya Petugas Yayasan, Polisi Tunggu Laporan Resmi
BACA JUGA:Banjir Surut, Jalan Gunung Sahari Jakpus Kembali Normal! TransJakarta Kembali Melayani
Menindaklanjuti laporan tersebut, tim pengawasan KKP segera melakukan penelusuran di lapangan.
Hasil investigasi menunjukkan adanya empat kontainer berisi frozen Pacific Mackerel yang diduga diimpor secara ilegal oleh perusahaan PT CBJ.
"Ditjen PSDKP dengan dukungan penuh dari KPU Bea dan Cukai Tanjung Priok berhasil mengamankan empat kontainer tersebut," ujar Halid.
Lebih lanjut, Halid memaparkan bahwa PT CBJ sebenarnya telah memperoleh kuota impor resmi pada awal tahun 2025.
BACA JUGA:Aksi Seorang Anak Remaja Curi 2 Unit Motor Terekam CCTV, Sempat Sembunyi di Kebun Sebelum Tertangkap
BACA JUGA:Robi Aryanto DA7 Disentil Publik, Dampak Viralnya Broken Strings...
Kuota yang diberikan sebesar 100 ton pada Januari, kemudian mengalami perubahan menjadi 150 ton pada Juni 2025.
Kuota tersebut sudah direalisasikan melalui pemasukan 100 ton pada Februari dan tambahan 50 ton pada Juli 2025.