bacakoran.co - insanul fahmi dan inara rusli akhirnya mengambil keputusan yang mengejutkan banyak pihak: mereka memilih untuk berdamai.
keputusan ini seolah menjadi titik balik dari konflik panjang yang sempat mencuat ke publik.
namun, di balik kabar damai tersebut, ada hati yang semakin sesak, yakni hati sang istri sah, wardatina mawa.
baginya, keputusan itu bukanlah akhir dari masalah, melainkan awal dari luka yang semakin dalam.
wardatina mawa, perempuan yang sah secara hukum dan agama sebagai istri insanul fahmi, harus menghadapi kenyataan pahit bahwa dirinya dipoligami tanpa izin.
dalam setiap unggahan di media sosial, ia berusaha menampilkan ketegaran, meski di dalam hatinya bergemuruh rasa kecewa dan pengkhianatan.
kata-kata yang ia tuliskan menjadi cermin dari perasaan yang tak mampu ia ucapkan secara langsung.
“setiap kebohongan dan pengkhianatan yang tidak kamu ketahui, akan ditunjukkan dan diperlihatkan allah dengan cara yang sempurna. begitulah cara dunia berpihak pada orang yang tulis hatinya. seindah apapun kita merencanakan masa depan, tetap sisakan ruang ikhlas bahwa hari esok memang di luar kehendak kita,” tulis mawa dalam salah satu unggahan penuh makna.
ungkapan itu bukan sekadar kata-kata, melainkan doa dan pengingat bagi dirinya sendiri.
ia sadar bahwa kebohongan, sekecil apa pun, akan menuntun pada kebohongan lain.
“kadang kita mengira kebohongan kecil itu tidak apa-apa, hanya untuk menenangkan keadaan, hanya untuk menghindari masalah. tapi tanpa sadar, satu kebohongan membuat kita harus menyiapkan kebohongan lain. hati pun perlahan terbiasa berdusta, sampai kejujuran terasa asing dan berat untuk diucapkan,” tulisnya lagi.
wardatina menegaskan bahwa kejujuran memang tidak selalu mudah, bahkan sering kali membuat seseorang terlihat salah di mata manusia.
namun, di hadapan allah, kejujuran adalah jalan yang benar. ia mengingatkan bahwa bukan seberapa rapi cerita yang dibuat manusia yang menjadi ukuran, melainkan seberapa tulus hati menjaga amanah.
“mari belajar menjaga lisan dan niat. karena allah mencintai hamba-nya yang memilih kebenaran, meski harus menelan pahit di awal, demi ketenangan di akhir,” tambahnya.
namun, sikap tegar wardatina justru ditanggapi berbeda oleh insanul fahmi. ia menduga ada pihak-pihak yang menghasut mawa sehingga membuatnya menolak berdamai.
bahkan, fahmi menuding ada orang-orang yang mempersulit dirinya untuk bertemu dengan anak.
“yang kasihan, mawa juga pada akhirnya. karena, menurut aku ya, kita masih ada ikatan suami istri. aku punya perasaan batin yang kuat, mawa juga sebenarnya masih punya perasaan sama aku. dan aku juga begitu, bahkan lebih sebenarnya,” ujar fahmi.
ia meyakini bahwa ada aktor di luar keluarga inti yang sengaja mengendalikan situasi.
menurutnya, tekanan yang dirasakan mawa tidak sepenuhnya berasal dari dirinya, melainkan dari hasutan orang lain.
“katanya mawa terpressure dan lain-lain, karena aku tahu perasaan dan logika dia yang diterima dari hasutan-hasutan orang lain itu gak selaras. ini ranah privasi biarlah kami yang menyelesaikan. jika kalian punya keluarga dan rumah tangga, terus ada orang lain yang ikut campur, yang jadi masalah ada orang lain yang kasih masukan tak sesuai substansi,” tegasnya.
fahmi bahkan menuding bahwa ada pihak yang sengaja memonetisasi konflik rumah tangganya.
“untuk aku sendiri, untuk ketemu gak boleh, dihalang-halangi. kami menduga ada aktor lain di belakang mawa yang mengendalikan ini semua sehingga hal seperti ini bisa terus dimonetize,” ucapnya.
sementara itu, kasus dugaan perzinahan yang dilaporkan oleh wardatina mawa tetap bergulir di kepolisian.
sebagai istri sah, ia menyerahkan sejumlah barang bukti untuk memperkuat laporannya.
bukti-bukti tersebut antara lain: satu lembar fotokopi akta nikah dari kua kabupaten deli serdang, sumatera utara, tertanggal 31 januari 2019; satu buah flashdisk berkapasitas 4 gb berwarna merah yang berisi tujuh video rekaman cctv; satu lembar fotokopi kartu keluarga dengan kepala keluarga atas nama insanul fahmi; satu bundel percakapan dm instagram antara inara dan mawa; serta satu lembar surat pernyataan dari kua yang menyatakan pernikahan insanul fahmi dan wardatina mawa tercatat secara resmi.
dengan bukti-bukti tersebut, mawa berusaha menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar korban perasaan, melainkan korban nyata dari pengkhianatan rumah tangga.
ia ingin dunia tahu bahwa kejujuran dan kebenaran tetap harus diperjuangkan, meski jalan yang ditempuh penuh duri.