bacakoran.co - ketegangan di timur tengah kembali memanas. joseph aoun, presiden lebanon, secara tegas mengutuk serangan mematikan yang dilancarkan oleh israel ke wilayah negaranya.
serangan tersebut menewaskan sedikitnya 12 orang, meskipun sebelumnya telah disepakati gencatan senjata antara israel dan kelompok militan hizbullah.
peristiwa ini menjadi pukulan keras bagi upaya diplomasi internasional yang tengah diupayakan untuk menjaga stabilitas kawasan.
situasi kembali memicu kekhawatiran akan eskalasi konflik baru di perbatasan lebanon–israel.
dalam pernyataannya, presiden joseph aoun menyebut serangan tersebut sebagai “tindakan agresi terang-terangan” yang dinilai berpotensi menggagalkan berbagai upaya diplomatik yang sedang dilakukan oleh amerika serikat serta negara-negara lain.
gencatan senjata antara israel dan hizbullah sendiri telah diberlakukan sejak november 2024 dan diawasi oleh komite multinasional yang terdiri dari lima negara, termasuk amerika serikat.
komite tersebut dibentuk untuk memastikan kesepakatan berjalan dan mencegah bentrokan berskala besar.
namun, dalam beberapa bulan terakhir, israel disebut masih melakukan serangan udara yang diklaim menargetkan posisi militan hizbullah di lebanon selatan dan timur.
menurut kementerian kesehatan lebanon, serangan terbaru yang terjadi pada jumat (20/2/2026) menewaskan 12 orang.
sebanyak 10 korban dilaporkan berada di wilayah timur lebanon.
militer israel menyatakan bahwa serangan tersebut menargetkan sejumlah militan dari unit rudal hizbullah di tiga pusat komando berbeda di wilayah baalbek.
israel menegaskan operasi tersebut bertujuan mencegah ancaman keamanan terhadap wilayahnya.
di sisi lain, hizbullah mengonfirmasi bahwa salah satu komandannya tewas dalam serangan tersebut.
insiden ini kembali mempertegas ketegangan yang belum sepenuhnya mereda meski ada kesepakatan gencatan senjata.
situasi memanas setelah anggota parlemen dari hizbullah, rami abu hamdan, meminta pemerintah lebanon untuk menangguhkan pertemuan komite multinasional pengawas gencatan senjata.
menurutnya, pertemuan tersebut sebaiknya tidak dilanjutkan sebelum israel menghentikan serangan militernya.
komite yang dijadwalkan akan bertemu kembali minggu depan kini berada di bawah tekanan politik.
langkah ini menunjukkan adanya ketegangan internal di lebanon terkait respons terhadap serangan israel.
meskipun melemah setelah konflik sebelumnya dengan israel, hizbullah tetap menjadi kekuatan politik signifikan di lebanon dan memiliki perwakilan di parlemen.
pemerintah lebanon sendiri pada tahun lalu berkomitmen untuk melucuti senjata kelompok tersebut sebagai bagian dari upaya memperkuat stabilitas nasional.
militer lebanon bahkan menyatakan telah menyelesaikan fase pertama pelucutan senjata, terutama di wilayah dekat perbatasan israel.
namun israel menilai langkah tersebut belum memadai.
pemerintah israel menuduh hizbullah masih berupaya mempersenjatai kembali pasukannya, sehingga menganggap operasi militer sebagai tindakan preventif.
serangan terbaru ini meningkatkan risiko eskalasi konflik yang lebih luas.
situasi lebanon saat ini berada dalam kondisi sensitif, mengingat faktor politik domestik, tekanan ekonomi, serta dinamika geopolitik regional.
upaya diplomatik yang dipimpin amerika serikat dan mitra internasional kini menghadapi tantangan besar.
jika pertemuan komite pengawas ditangguhkan, maka mekanisme pemantauan gencatan senjata bisa terganggu.
analis menilai bahwa stabilitas kawasan sangat bergantung pada komunikasi dan pengendalian diri dari kedua pihak.
insiden ini juga berpotensi memengaruhi hubungan diplomatik di kawasan timur tengah.
amerika serikat sebagai salah satu anggota komite pengawas berada dalam posisi krusial untuk menengahi situasi.
selain itu, dinamika ini turut menjadi perhatian negara-negara regional yang khawatir konflik dapat meluas dan memicu instabilitas baru.
serangan israel yang menewaskan 12 orang di lebanon menandai ujian berat bagi kesepakatan gencatan senjata yang telah berjalan sejak 2024.
presiden joseph aoun secara tegas mengecam tindakan tersebut dan menilai hal itu mengancam upaya diplomasi internasional.
dengan desakan politik dari hizbullah serta tudingan israel terkait persenjataan ulang, situasi di perbatasan lebanon–israel kembali memasuki fase yang penuh ketidakpastian.
ke depan, peran komunitas internasional akan sangat menentukan apakah kawasan ini mampu mempertahankan stabilitas atau justru kembali terjerumus dalam konflik berskala besar.