bacakoran.co

Heboh Alumni LPDP Pilih WNA untuk Anak, Wamen Stella Angkat Bicara!

Heboh Alumni LPDP Pilih WNA untuk Anak, Wamen Stella Angkat Bicara--Harian Terbit

BACAKORAN.CO - Wamen Diktisaintek Stella Christie menanggapi polemik pernyataan seorang alumni LPDP yang viral dengan kalimat “cukup saya WNI, anak jangan”.

Ia menegaskan bahwa setiap beasiswa dari negara adalah utang budi. 

“Saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa S1 luar negeri Kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. Namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi," kata Stella. 

Menurut Stella, kontroversi ini mencerminkan kegagalan moral di tahap awal.

BACA JUGA:Full Senyum, Menkeu Purbaya Yudhi Bocorkan Jadwal Cair THR ASN, Catat!

BACA JUGA:LPDP Klarifikasi Polemik Alumni Penerima Beasiswa Negara yang Pamer Paspor Inggris Anak!

Ia menilai pembatasan berlebihan dalam sistem beasiswa tidak serta merta menyelesaikan masalah, bahkan bisa menumbuhkan sikap sinis.

Stella menekankan bahwa yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan dan ruang bagi penerima beasiswa untuk menemukan cara memberi manfaat bagi bangsa.  

Ia juga menyoroti contoh ilmuwan diaspora Indonesia yang tetap menunjukkan dedikasi, seperti Prof. Vivi Kashim di Tiongkok, Prof. Sastia Putri di Jepang, dan Prof. Haryadi di Amerika Serikat.

Stella menekankan bahwa rasa syukur kepada negara bisa diwujudkan dalam banyak bentuk.  

BACA JUGA:Khamenei Ancam Tenggelamkan Kapal Induk AS, Ini Daftar Rudal Hipersonik Iran yang Bikin Pentagon Waspada

BACA JUGA:Mudik Gratis Pemprov DKI Jakarta 2026 Resmi Dibuka, Ini Jadwal, Syarat dan 6 Kota Tujuan

Selain itu, Stella memberikan tips bagi penerima beasiswa untuk menumbuhkan patriotisme, salah satunya dengan fokus memberi manfaat langsung kepada individu di Tanah Air.

Ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia di rumah, bahkan dalam keluarga multikulturalnya.

Heboh Alumni LPDP Pilih WNA untuk Anak, Wamen Stella Angkat Bicara!

Ayu

Ayu


bacakoran.co - wamen diktisaintek stella christie menanggapi polemik pernyataan seorang alumni lpdp yang viral dengan kalimat “cukup saya wni, anak jangan”.

ia menegaskan bahwa setiap beasiswa dari negara adalah utang budi. 

“saya pernah dikecam netizen ketika mengimbau penerima beasiswa s1 luar negeri kemdiktisaintek bahwa beasiswa adalah utang. namun kenyataannya memang demikian: setiap beasiswa dari negara adalah utang budi," kata stella. 

menurut stella, kontroversi ini mencerminkan kegagalan moral di tahap awal.

ia menilai pembatasan berlebihan dalam sistem beasiswa tidak serta merta menyelesaikan masalah, bahkan bisa menumbuhkan sikap sinis.

stella menekankan bahwa yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan dan ruang bagi penerima beasiswa untuk menemukan cara memberi manfaat bagi bangsa.  

ia juga menyoroti contoh ilmuwan diaspora indonesia yang tetap menunjukkan dedikasi, seperti prof. vivi kashim di tiongkok, prof. sastia putri di jepang, dan prof. haryadi di amerika serikat.

stella menekankan bahwa rasa syukur kepada negara bisa diwujudkan dalam banyak bentuk.  

selain itu, stella memberikan tips bagi penerima beasiswa untuk menumbuhkan patriotisme, salah satunya dengan fokus memberi manfaat langsung kepada individu di tanah air.

ia juga menekankan pentingnya penggunaan bahasa indonesia di rumah, bahkan dalam keluarga multikulturalnya.

“kemampuan berbahasa indonesia tidak pernah menjadi beban, bahkan bisa menjadi senjata ampuh! di keluarga saya, bukan hanya anak saya yang diwajibkan berbahasa indonesia, tetapi suami saya yang berasal dari polandia pun diharuskan bisa bahasa indonesia," tutur stella. 

di sisi lain, alumni lpdp berinisial ds yang sempat viral akhirnya menyampaikan permintaan maaf terbuka. ia mengakui bahwa ucapannya, “i know the world seems unfair tapi cukup aku aja yang wni, anak-anakku jangan, kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat wna itu,” lahir dari rasa kecewa.

ds kemudian mengklarifikasi, “saya menyadari sepenuhnya bahwa kalimat tersebut kurang tepat dan dapat dimaknai sebagai bentuk perendahan terhadap identitas sebagai warga negara indonesia. untuk itu, saya mengakui kesalahan saya dalam pemilihan kata dan menyampaikannya di ruang publik.”  

Tag
Share