bacakoran.co - wamendikti saintek stella christie ungkap pendapatnya di kasus penerima beasiswa lpdp yang viral karena konten 'cukup saya wni, anak jangan'
selajutnya, stella christie menilai bahwa penerima beasiswa lpdp bernama dwi sasetyaningtyas itu telah kehilangan moralitasnya.
stella juga mengingatkan bahwa beasiswa dari negara adalah amanah, bukan sekadar fasilitas yang dinikmati oleh penerimanya.
"kontroversi yang muncul belakangan ini pada dasarnya mencerminkan kegagalan pendidikan moral pada tahap awal kehidupan. beasiswa tidak dipahami sebagai amanah, melainkan sekadar fasilitas. di sinilah letak persoalannya," ujar stella wakil menteri pendidikan tinggi, sains, dan teknologi (wamendikti saintek), dilansir bacakoran.co dari , senin (23/2/2026).
menurutnya, kenyataannya memang begitu, di mana setiap beasiswa dari negara adalah utang budi.
"meski demikian, jawaban atas persoalan ini bukanlah dengan memperketat sistem beasiswa melalui lapisan demi lapisan pembatasan. pembatasan yang berlebihan justru berpotensi menumbuhkan sikap sinis: penerima beasiswa menjadi kurang bersyukur kepada negara dan sibuk mencari celah untuk menghindari kewajiban," jelasnya.
"yang lebih dibutuhkan adalah kepercayaan, memberi ruang bagi para penerima beasiswa untuk menemukan caranya sendiri dalam memberi manfaat bagi bangsa," sambung stella.
sebelumnya lembaga pengelola dana pendidikan (lpdp) akhirnya menanggapi kontroversi viral seorang alumni yang memamerkan paspor asing anaknya di media sosial.
lpdp menyayangkan kegaduhan yang timbul dan menegaskan sikap resminya atas kasus tersebut.
pernyataan ini muncul setelah video dwi saseti ning tias viral karena menunjukkan paspor inggris milik anaknya.
dalam rekaman, ia tampak haru membuka surat dari home office inggris dan menyebut dokumen itu sebagai “paket bukan sembarang paket” yang akan mengubah masa depan sang anak.
kontroversi makin panas setelah ia berkata, “cukup aku saja yang wni, anak-anakku jangan,” yang memicu kritik luas mengingat ia dan suaminya merupakan penerima beasiswa lpdp dari dana publik.
sikap resmi lpdp
melalui akun resmi, lpdp menegaskan:
- pernyataan tias tidak mencerminkan integritas, etika, dan profesionalisme yang ditanamkan kepada penerima beasiswa.
- sesuai aturan, penerima beasiswa wajib mengabdi di indonesia minimal lima tahun setelah lulus. tias disebut sudah menuntaskan kewajiban tersebut, sehingga secara administratif lpdp tak lagi terikat dengannya.
- meski begitu, lpdp tetap mengingatkan pentingnya kebijaksanaan bermedia sosial serta tanggung jawab kebangsaan sebagai alumni program strategis negara.
sorotan ke suami alumni
perhatian publik kini beralih ke suaminya, arya iwantoro, yang juga alumnus lpdp.
berdasarkan keterangan resmi, ada dugaan arya belum menyelesaikan kewajiban kontribusinya.
lpdp menyatakan akan memanggil arya untuk klarifikasi dan siap menindak jika terbukti lalai, termasuk kemungkinan pengembalian dana beasiswa.
awal mula video viral
video tias yang memperlihatkan kebahagiaan atas kewarganegaraan inggris anaknya memicu perdebatan luas.
ia menyebut telah menunggu proses selama empat bulan dan berharap anak-anaknya memiliki “paspor kuat.”
publik kemudian menelusuri riwayat pendidikan pasangan tersebut dan mempertanyakan komitmen pengabdian mereka.
tias sudah menyampaikan permintaan maaf, mengakui ucapannya lahir dari rasa kecewa terhadap kondisi di indonesia, namun menyadari pernyataan itu melukai banyak pihak.
kasus lain yang jadi sorotan
di tengah polemik lpdp, sejumlah peristiwa lain juga mencuat:
- di tual, maluku, seorang pelajar 14 tahun meninggal diduga akibat penganiayaan oknum brimob.
- di sukabumi, jawa barat, remaja 12 tahun tewas diduga dianiaya ibu tiri.
- di papua pegunungan, satgas damai cartenz menangkap dua buronan kkb di yahukimo.
berbagai kasus ini menunjukkan dinamika hukum dan sosial yang tengah berlangsung.
namun polemik lpdp tetap menjadi sorotan utama karena menyangkut moral, nasionalisme, dan akuntabilitas pengelolaan dana pendidikan negara.