Raih 99,9 Persen Suara, Kim Jong Un Kembali Terpilih Jadi Presiden Korea Utara
Kim Jong Un kembali terpilih sebagai Presiden Korea Utara. Dunia menyoroti legitimasi politik dan arah kebijakan baru Korut terhadap Seoul.--Instagram @indozone.id
PALEMBANG, BACAKORAN.CO – Korea Utara kembali menjadi sorotan dunia setelah pemimpinnya, Kim Jong Un, terpilih kembali sebagai Presiden Urusan Negara Republik Demokratik Korea (DPRK).
Pengumuman ini disampaikan oleh kantor berita resmi KCNA usai Sidang Pertama Majelis Rakyat Tertinggi (Supreme People’s Assembly/SPA) untuk masa jabatan ke-15 yang digelar pada 22 Maret 2026.
Kim Jong Un Kembali Duduki Jabatan Tertinggi
Dalam laporan KCNA, disebutkan bahwa pemilihan kembali Kim mencerminkan “kehendak dan keinginan bulat seluruh rakyat Korea.”
Kim, yang merupakan generasi ketiga penguasa Korut sejak negara itu didirikan oleh kakeknya, Kim Il Sung, pada 1948, telah memimpin sejak kematian ayahnya, Kim Jong Il, pada 2011.
BACA JUGA:Murka, Korut Kecam Keras Keinginan Netanyahu untuk Kuasai Seluruh Gaza: Melanggar Hukum
Foto-foto resmi menunjukkan Kim mengenakan setelan jas formal ala Barat, duduk di tengah panggung diapit pejabat tinggi, dengan latar patung besar ayah dan kakeknya.
Sidang tersebut dihadiri 687 deputi yang sebelumnya terpilih dengan tingkat partisipasi hampir 100 persen, di mana mayoritas suara mendukung kandidat tunggal yang diajukan partai berkuasa.
Kritik dan Pandangan Analis
Meski diumumkan sebagai bentuk legitimasi politik, banyak pengamat internasional menilai proses pemilihan di Korea Utara sudah ditentukan sebelumnya.
Lee Ho-ryung dari Institut Analisis Pertahanan Korea menyebut acara ini sebagai “skenario terencana” untuk memperlihatkan prosedur demokratis, meski hasilnya tidak pernah berbeda.
Hong Min, analis senior dari Institut Unifikasi Nasional Korea, menyoroti bahwa pidato Kim di parlemen bisa menjadi indikator arah kebijakan antar-Korea.
Ia menilai bahasa yang digunakan Kim, apakah masih menyebut “unifikasi nasional” atau bergeser ke istilah agresif seperti “kontrol teritorial,” akan menunjukkan kerangka ideologis baru dalam hubungan Korut dengan Seoul.
Sidang Parlemen dan Agenda Politik
BACA JUGA:Waduh! Inilah Tanggapan Korut Terkait Amerika Ikut-ikutan Israel Serang Iran
BACA JUGA:FIFA Tak Main-Main Ini Hukuman Timnas Korut U-17 Jika Terbukti Palsukan Umur