Pertalite dan Solar Aman Sampai Akhir Tahun: Ini Jurus Pemerintah Hadapi Harga Minyak Dunia!
Pertalite & Solar Aman Sampai Akhir Tahun: Ini Jurus Pemerintah Hadapi Harga Minyak Dunia--Disway
BACAKORAN.CO - Kebijakan subsidi bahan bakar minyak (BBM) yang dipertahankan hingga akhir tahun 2026 menjadi salah satu strategi penting pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi daya beli masyarakat di tengah gejolak harga energi global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian RI, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah bersama Pertamina telah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi.
“Guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli, seperti yang sudah diumumkan pada tanggal 31 Maret yang lalu, pemerintah dan Pertamina ini sudah memutuskan untuk tidak menaikkan harga BBM bersubsidi. Jadi sekali lagi, BBM bersubsidi itu adalah Pertalait dan Solar,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin, 6 April 2026.
Airlangga menjelaskan bahwa kebijakan ini akan tetap berlaku selama harga minyak dunia tidak melampaui rata-rata Rp97.000 per barel.
BACA JUGA:Begal Sadis, Pura-pura jadi Penumpang, Sampai Tujuan Tembak Tukang Ojek yang Mengantarnya
BACA JUGA:Dikawal TNI, Tim Pidsus Kejari PALI 'Obok-obok' Kantor Dinas Perkim
Dengan asumsi tersebut, pemerintah optimistis harga BBM bersubsidi dapat dipertahankan hingga Desember 2026.
BBM bersubsidi yang dimaksud mencakup dua jenis utama, yakni Biosolar dan Pertalite.
Keberadaan subsidi ini dinilai sangat krusial untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan masyarakat dan kondisi fiskal negara.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menambahkan bahwa anggaran subsidi energi masih dianggap cukup untuk menopang kebijakan tersebut.
BACA JUGA:Kembali Memanas, Rudal Iran Tembus Iron Dome Israel, Kota Haifa Terguncang!
BACA JUGA:Api Berkobar Jelang Malam, Warga Sekitar SMP Muhammadiyah Prabumulih Panik
“Hanya saja saya ingin menegaskan bahwa subsidi terhadap BBM-BBM subsidi itu tidak akan dihilang, akan terus diadakan sampai dengan akhir tahun,” katanya.
Purbaya mengungkap bahwa pemerintah telah melakukan berbagai simulasi fiskal, termasuk dengan asumsi harga minyak dunia mencapai 100 dolar AS per barel.