bacakoran.co

Iran vs Trump Makin Memanas, Blokade Kapal dan Pelabuhan Picu Krisis Energi!

Teheran menilai blokade tersebut sebagai tindakan provokatif yang melanggar hukum internasional.--DetikNews

BACAKORAN.CO - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencapai puncaknya setelah kebijakan blokade laut terhadap kapal dan pelabuhan Iran diumumkan.

Langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum Washington terhadap Teheran, yang langsung memicu reaksi keras dari pemerintah Iran.

Teheran menilai blokade tersebut sebagai tindakan provokatif yang melanggar hukum internasional.

Iran menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya menyerang kedaulatan merek tapi juga mengancam stabilitas jalur perdagangan global, khususnya di Selat Hormuz yang menjadi jalur vital ekspor minyak dunia.

BACA JUGA:China Desak Navigasi Tanpa Hambatan di Selat Hormuz, Dunia Khawatir Konflik Memanas

BACA JUGA:Trump Janji Buka Selat Hormuz Segera, Dampak Besar bagi Pasokan Energi Global

"Pembatasan yang dilakukan oleh AS terhadap kapal di perairan internasional merupakan tindakan ilegal dan dikategorikan sebagai pembajakan," ujar Komando terpadu angkatan bersenjata Iran, dilansir Bacakoran.co dari CNN Indonesia, Senin (13/4/2026).

SebelumyaHarga minyak dunia kembali menjadi isu utama setelah pergerakan harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) dan Brent menunjukkan fluktuasi tajam pada Kamis (Jumat waktu Jakarta).

Harga minyak AS sempat naik lebih dari 3% dan ditutup di level USD 97,87 per barel untuk kontrak pengiriman Mei.

Sementara itu, harga minyak mentah Brent yang menjadi acuan global naik lebih dari 1% dan berakhir di USD 95,92 per barel untuk pengiriman Juni.

Lonjakan harga minyak dunia bahkan sempat menembus di atas USD 100 per barel pada awal sesi perdagangan, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap langkah Iran yang membatasi lalu lintas kapal di Selat Hormuz meskipun telah ada perjanjian gencatan senjata dengan AS.  

BACA JUGA:Jasad Findo Balita Hanyut di Sungai Komering Ditemukan Penyelam, Perahu Karet Tabrak Batu

BACA JUGA:Jangan Terlewati, Pencairan Bansos Kemensos 2026 Dicairkan Segera, Cek Melalui Website Resmi dengan KK dan KTP

CEO Abu Dhabi National Oil Company (ADNOC), Sultan Ahmed Al Jaber, menegaskan bahwa Iran hanya mengizinkan kapal yang mendapatkan persetujuan resmi untuk melewati jalur tersebut.

Iran vs Trump Makin Memanas, Blokade Kapal dan Pelabuhan Picu Krisis Energi!

Yanti D.P

Yanti D.P


bacakoran.co - ketegangan antara iran dan amerika serikat kembali mencapai puncaknya setelah kebijakan blokade laut terhadap kapal dan pelabuhan iran diumumkan.

langkah ini dianggap sebagai bagian dari strategi tekanan maksimum washington terhadap teheran, yang langsung memicu reaksi keras dari pemerintah iran.

teheran menilai blokade tersebut sebagai tindakan provokatif yang melanggar hukum internasional.

iran menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya menyerang kedaulatan merek tapi juga mengancam stabilitas jalur perdagangan global, khususnya di selat hormuz yang menjadi jalur vital ekspor minyak dunia.

"pembatasan yang dilakukan oleh as terhadap kapal di perairan internasional merupakan tindakan ilegal dan dikategorikan sebagai pembajakan," ujar komando terpadu angkatan bersenjata iran, dilansir bacakoran.co dari cnn indonesia, senin (13/4/2026).

sebelumya kembali menjadi isu utama setelah pergerakan harga minyak mentah amerika serikat (as) dan brent menunjukkan fluktuasi tajam pada kamis (jumat waktu jakarta).

harga  as sempat naik lebih dari 3% dan ditutup di level usd 97,87 per barel untuk kontrak pengiriman mei.

sementara itu, harga minyak mentah brent yang menjadi acuan global naik lebih dari 1% dan berakhir di usd 95,92 per barel untuk pengiriman juni.

lonjakan harga minyak dunia bahkan sempat menembus di atas usd 100 per barel pada awal sesi perdagangan, dipicu oleh kekhawatiran pasar terhadap langkah iran yang membatasi lalu lintas kapal di selat hormuz meskipun telah ada perjanjian gencatan senjata dengan as.  

ceo abu dhabi national oil company (adnoc), sultan ahmed al jaber, menegaskan bahwa iran hanya mengizinkan kapal yang mendapatkan persetujuan resmi untuk melewati jalur tersebut.

“itu bukan kebebasan navigasi. itu adalah pemaksaan,” ujarnya di media sosial.

kondisi ini memperkuat ketidakpastian pasar, karena selat hormuz merupakan jalur vital bagi distribusi energi global.

situasi ini membuat harga minyak dunia semakin sensitif terhadap dinamika geopolitik di timur tengah.  

namun, kenaikan harga minyak mereda setelah perdana menteri israel, benjamin netanyahu, menyatakan kesediaan untuk bernegosiasi dengan lebanon.

langkah ini dipandang sebagai sinyal positif yang dapat meredakan ketegangan militer israel terhadap hizbullah, sekutu iran di lebanon.

meski demikian, ketidakpastian tetap tinggi karena ketua parlemen iran, mohammad bagher ghalibaf, menuduh as melanggar tiga poin penting dari usulan gencatan senjata iran.

ia menyoroti serangan israel yang berlanjut di lebanon, insiden pesawat tak berawak yang memasuki wilayah udara iran, serta penolakan terhadap hak teheran untuk memperkaya uranium.  

“ketidakpercayaan mendalam yang kita miliki terhadap amerika serikat berakar dari pelanggaran berulang-ulang terhadap segala bentuk komitmen — sebuah pola yang sayangnya telah terulang kembali,” kata ghalibaf dalam sebuah pernyataan yang diunggah di media sosial.  

presiden as donald trump menilai proposal iran bisa menjadi dasar pembicaraan, sementara wakil presiden jd vance menekankan bahwa gencatan senjata selalu penuh kompleksitas.

“gencatan senjata selalu rumit,” kata vance, menanggapi insiden drone yang dilaporkan di wilayah udara iran.

ia menambahkan bahwa washington tetap berpendapat iran tidak boleh memperkaya uranium, dan menegaskan bahwa gencatan senjata yang mencakup lebanon tidak termasuk dalam perjanjian tersebut.  

perkembangan ini menunjukkan betapa harga minyak dunia sangat dipengaruhi oleh faktor geopolitik.

setiap pernyataan, negosiasi, maupun insiden di kawasan timur tengah dapat langsung memicu volatilitas harga.

bagi pasar global, harga minyak dunia bukan hanya soal pasokan dan permintaan, tetapi juga refleksi dari ketegangan politik internasional.

dengan kondisi yang terus berubah, investor dan pelaku industri energi harus tetap waspada terhadap dinamika yang dapat menggeser harga minyak dunia secara drastis.  

Tag
Share