Bukan Lagi Matahari! PT MDS Retailing Tbk Resmi Disahkan Investor Siap Terima Transferan Rp250 Per Saham
Resmi Berganti Nama Emiten ritel LPPF kini bertransformasi penuh menjadi PT MDS Retailing Tbk--Generate AI
BACAKORAN.CO – Raksasa ritel tanah air PT Matahari Department Store Tbk secara resmi melakukan transformasi identitas perusahaan dengan berganti nama menjadi PT MDS Retailing Tbk.
Keputusan besar ini diambil di tengah tantangan penurunan kinerja keuangan tahun buku 2025 namun perusahaan tetap berkomitmen memberikan imbal hasil bagi pemegang saham.
Langkah strategis ini telah mendapatkan restu penuh dalam rapat umum pemegang saham tahunan yang digelar baru-baru ini.
Berdasarkan informasi perubahan nama dari Matahari Department Store menjadi PT MDS Retailing Tbk merupakan bagian dari hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa yang dilaksanakan pada 15 April 2026.
BACA JUGA:KPK Mulai Endus 8 Potensi Korupsi MBG, Tranparansi dan Akuntabilitas Lemah, KKN di Mitra SPPG
Emiten dengan kode saham LPPF ini juga telah menyepakati perubahan Pasal 1 ayat 1 Anggaran Dasar terkait identitas perusahaan.
Meski pihak manajemen tidak merinci alasan spesifik di balik perubahan nama tersebut, kamu bisa melihat bahwa langkah ini sering kali menjadi upaya penyegaran merek atau rebranding untuk menyesuaikan diri dengan dinamika pasar ritel modern yang semakin kompetitif.
Bagi kamu yang mengoleksi saham LPPF, ada kabar menggembirakan karena perusahaan akan membagikan dividen tunai final sebesar Rp250 per saham dari laba tahun buku 2025.
Masa cum dividen di pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 23 April 2026, sementara ex dividen akan berlangsung pada 24 April 2026.
BACA JUGA:Natalius Pigai Soal Laporan Polisi ke Fery Amsari : Bukan Ahli Petanian, Tidak Perlu Ditanggapi
Proses pembayaran dividen sendiri dijadwalkan akan dilakukan secara serentak pada 4 Mei 2026 mendatang.
Namun di balik pembagian keuntungan tersebut, kamu perlu mencermati kinerja keuangan perusahaan yang sedang mengalami tekanan.
Pendapatan bersih perusahaan tercatat sebesar Rp5,78 triliun pada tahun 2025, yang berarti mengalami penurunan sebesar 9,6 persen jika dibandingkan dengan perolehan tahun sebelumnya yang mencapai Rp6,39 triliun.
Hal ini berdampak langsung pada laba bersih yang terkoreksi menjadi Rp725,4 miliar, turun dari angka Rp827,7 miliar pada periode tahun 2024.