BACAKORAN.CO – Duka mendalam kembali menyelimuti bangsa Indonesia setelah Praka Rico Pramudia, prajurit TNI yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian PBB atau UNIFIL, dinyatakan gugur di Lebanon pada Jumat, 24 April.
Prajurit kebanggaan ini menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan luka parah selama hampir satu bulan akibat serangan artileri yang diyakini berasal dari tank militer Israel.
Tragedi yang menyayat hati ini menjadi tamparan keras bagi komunitas internasional karena secara terang-terangan melanggar hukum kemanusiaan.
Serangan mematikan ke posisi UNIFIL di Adchit Al-Qusayr, wilayah Lebanon selatan pada 29 Maret lalu, sebelumnya telah merenggut nyawa rekannya, Praka Farizal Rhomadhon.
BACA JUGA:Pilu! Harta Masa Tua Rp400 Juta Raib, Catatan Terakhir Ayah Meyden Bikin Netizen Menangis
Keduanya menjadi korban jiwa saat sedang tulus menjalankan mandat memelihara perdamaian dunia di kawasan yang tengah bergejolak.
Berdasarkan data dan pernyataan resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa melalui Juru Bicara Sekretaris Jenderal, Stéphane Dujarric, investigasi sudah mulai berjalan.
Kutipan resmi dari pihak PBB menyebutkan dengan jelas sumber serangan mematikan tersebut.
"Temuan awal UNIFIL dalam penyelidikan mengindikasikan sebuah proyektil yang ditembakkan dari tank Merkava Israel mengenai posisi UNIFIL, mengakibatkan gugurnya Praka Farizal Rhomadhon dan Praka Rico Pramudia," kata Dujarric dalam pernyataan resmi PBB.
BACA JUGA:Saudi Aramco Bertahan di Tengah Konflik Iran: Tetap Pertahankan Produksi, Pendapatan & Ketahanan Energi Global
Lebih lanjut, Dujarric menegaskan bahwa tindakan militer yang menyasar langsung pasukan PBB adalah sebuah pelanggaran hukum humaniter internasional yang sangat serius.
Tindakan tersebut juga bertentangan dengan Resolusi Dewan Keamanan PBB 1701 tahun 2006, serta memiliki potensi kuat untuk dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Merespons situasi ini, Sekretaris Jenderal PBB António Guterres turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban serta pemerintah dan seluruh rakyat Indonesia, seraya menuntut perlindungan mutlak bagi personel penjaga perdamaian.
Dalam kurun waktu satu bulan terakhir saja, empat prajurit TNI telah gugur saat mengemban misi kemanusiaan di Lebanon.
Duka Mendalam TNI, Praka Rico Pramudia Jadi Korban Keempat Serangan Brutal di Lebanon
Agus
Bobi
bacakoran.co – duka mendalam kembali menyelimuti bangsa indonesia setelah praka rico pramudia, yang tergabung dalam pasukan penjaga perdamaian pbb atau unifil, dinyatakan gugur di lebanon pada jumat, 24 april.
prajurit kebanggaan ini menghembuskan napas terakhir setelah berjuang melawan luka parah selama hampir satu bulan akibat serangan artileri yang diyakini berasal dari tank militer israel.
tragedi yang menyayat hati ini menjadi tamparan keras bagi komunitas internasional karena secara terang-terangan melanggar hukum kemanusiaan.
serangan mematikan ke posisi unifil di adchit al-qusayr, wilayah lebanon selatan pada 29 maret lalu, sebelumnya telah merenggut nyawa rekannya, praka farizal rhomadhon.
keduanya menjadi korban jiwa saat sedang tulus menjalankan mandat memelihara perdamaian dunia di kawasan yang tengah bergejolak.
berdasarkan data dan pernyataan resmi dari perserikatan bangsa-bangsa melalui juru bicara sekretaris jenderal, stéphane dujarric, investigasi sudah mulai berjalan.
kutipan resmi dari pihak pbb menyebutkan dengan jelas sumber serangan mematikan tersebut.
"temuan awal unifil dalam penyelidikan mengindikasikan sebuah proyektil yang ditembakkan dari tank merkava israel mengenai posisi unifil, mengakibatkan gugurnya praka farizal rhomadhon dan praka rico pramudia," kata dujarric dalam pernyataan resmi pbb.
lebih lanjut, dujarric menegaskan bahwa tindakan militer yang menyasar langsung pasukan pbb adalah sebuah pelanggaran hukum humaniter internasional yang sangat serius.
tindakan tersebut juga bertentangan dengan resolusi dewan keamanan pbb 1701 tahun 2006, serta memiliki potensi kuat untuk dikategorikan sebagai kejahatan perang.
merespons situasi ini, sekretaris jenderal pbb antónio guterres turut menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban serta pemerintah dan seluruh rakyat indonesia, seraya menuntut perlindungan mutlak bagi personel penjaga perdamaian.
dalam kurun waktu satu bulan terakhir saja, empat prajurit tni telah gugur saat mengemban misi kemanusiaan di lebanon.
selain farizal dan rico, dua prajurit lainnya, yaitu kapten inf zulmi aditya iskandar dan sertu muhammad nur ikhwan, tewas sehari setelah insiden pertama, tepatnya saat konvoi pasukan yang mereka kawal mendapat serangan.
total enam personel unifil dilaporkan tewas sejak awal maret di tengah gesekan panas antara israel dan kelompok hizbullah.
rentetan peristiwa ini tentu menuntut evaluasi tingkat tinggi terkait taktik perlindungan dan sistem peringatan dini bagi pasukan helm biru di zona konflik aktif.