bacakoran.co -- tim (dispusip) , sumatera selatan yang melakukan identifikasi manuskrip atau naskah kuno nusantara yang ada pada pemilik naskah kuno di kota palembang, selasa, 9 juni 2026, gembira luar biasa.
tim yang diketuai kepala bidang pengolahan, layanan dan pelestarian naskah kuno dispusip palembang, melly, s.k.m., m.si., berhasil mengidentifikasi 5 naskah kuno yang selama ini masih tersimpan dan belum terekspos.
"kita bersyukur pemilik naskah kuno tersebut, yaitu , memberikan kesempatan kepada kami untuk mengidentifikasi setidaknya 5 naskah kuno yang disimpannya,"jelas melly ketika mengidentifikasi naskah kuno di
terlebih, salah satu naskah kuno yang teridentifikasi itu berisi tentang yang selama ini banyak dicari dan ditanyakan para peneliti, sejarawan dan masyarakat, baik lokal maupun mancanegara.
ke-5 naskah kuno itu teridentifikasi setelah ketua tim panitia khusus filolog sumatera selatan dr. nyimas umi kalsum, s.ag., m.hum., masyarakat pernaskahan nusantara (manassa) komisariat sumatera selatan dan yayasan pusako sumatera selatan mengunjungi keraton kesultanan palembang darussalam.
dia mengatakan bahwa ke-5 naskah kuno tersebut yaitu al-qur'an, tafsir juz 2, hadis bukhari, kitab fiqih dan silsilah sultan-sultan kesultanan palembang darussalam. "semua naskah kuno itu dalam kondisi relatif masih baik dan bisa terbaca,"katanya.
melly mengaku sangat berterima kasih karena sultan iskandar mahmud badaruddin juga mempunyai kepedulian terhadap pelestarian naskah kuno. "beliau berharap naskah-naskah kuno itu dapat segera didigitalisasi agar bisa diselamatkan,"
sementara itu, sultan iskandar mahmud badaruddin yang semula mengaku sempat kecewa dengan aparatur pemerintah dari salah satu dinas di provinsi sumatera selatan yang pernah meminjam naskah kuno miliknya dalam waktu yang cukup lama, namun tidak jelas tujuannya.

"janjinya ketika itu akan di digitalisasi, tapi hingga beberapa bulan tidak ada kabar hasil kerjanya, terpaksa saya ambil. dan hingga saat ini tidak ada kabar hasil digitalisasinya," jelasnya.
sultan iskandar mahmud badaruddin kemudian terlihat bersemangat karena tim yang melakukan identifikasi naskah kuno miliknya mampu membaca teks jawi dan teks arab dalam naskah kuno miliknya.
"kalau bisa selain di digitalisasi, naskah kuno ini seperti tafsir al-qur'an, sahih bukhari ini juga diterjemahkan atau dialihbahasakan ke bahasa indonesia, sehingga dapat bermanfaat untuk ummat,"ucapnya seraya menambahkan dirinya juga masih menyimpan al quran tulis tangan yang lebarnya mencapai 2 meter.
menurutnya, hal itu layak dilakukan untuk menghindari penyelewengan tafsir dan hadis oleh pihak-pihak tertentu yang dapat menyesatkan.
selain itu, sultan iskandar mahmud badaruddin yang mengaku masih menyimpan beberapa naskah kuno yang kondisinya sudah rapuh juga sangat mendukung pelestarian naskah kuno ini karena di antaranya dapat membantu meluruskan sejarah.
"kita ini kan dibuat kacau oleh sejarah yang ditulis oleh penjajah dan kesalahan ini terus berlanjut hingga ke anak cucu,"ujarnya saat menunjukkan naskah kuno berukuran cukup besar yang ditulis pada kertas tebal seperti kulit keluaran eropa.
salah satu contoh kata dia, banyak orang yang beranggapan bahwa sultan palembang darussalam itu didapatkan berdasarkan garis keturunan. "tidak seperti itu. sultan itu bukan dari bapak ke anak,"ujarnya.
lebih lanjut menurut dia, dalam silsilah sultan kesultanan palembang darussalam tidak ada penulisan angka romawi."kekeliruan inilah yang harus kita benahi bersama-sama, duduk bersama,"jelasnya seraya mengatakan jika manuskrip silsilah sultan kesultanan palembang darussalam miliknya diperkirakan hanya ada satu di sumatera selatan.
menanggapi temuan naskah kuno itu, filolog sumatera selatan, dr. nyimas umi kalsum, s.ag., m.hum., juga mengaku sangat senang.
menurutnya, dari pengamatan sementara dari data tulisan dan tanda air pada kertas, diperkirakan naskah-naskah kuno itu berasal dari abad ke-18.
terkait pemintaan sultan iskandar mahmud badaruddin untuk mendigitalisasi serta mengalihmediakan naskah kuno miliknya menurut nyimas umi kalsum, pihaknya menyambut baik hal itu.
karena hal itu menurut dia merupakan salah satu tujuan kegiatan yang selama ini dilakukan oleh dispusip palembang, perpusnas ri dan manassa.

"tentu kita akan susun perencanaan terlebih dahulu, karena untuk naskah kuno selain naskah silsilah sultan, menurutnya jumlah halaman dan teksnya cukup banyak.
dijelaskannya bahwa untuk mengerjakan digitalisasi dan alih bahasa itu menurutnya memerlukan waktu dan tempat. sehingga tidak mungkin dilakukan saat itu juga di rumah pemilik naskah.
"sementara untuk membawa naskah kuno dari rumah pemilik ke tempat lain, selain di perlukan izin, juga diperlukan kehati-hatian agar naskah kuno itu tidak rusak.