Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS! Harapan Damai AS-Iran Guncang Pasar Global
Rupiah Nyaris Tembus Rp18.000 per Dolar AS! Harapan Damai AS-Iran Guncang Pasar Global.gbr.net--
Rupiah Melemah ke Rp17.988 per Dolar AS, Sentimen Damai AS-Iran Ubah Arah Pasar
BACAKORAN.CO – Pergerakan pasar keuangan global kembali mengalami perubahan besar setelah muncul harapan baru terkait meredanya konflik geopolitik di Timur Tengah. Optimisme atas potensi kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran memicu pergeseran sentimen investor menuju aset berisiko (risk-on), sekaligus menekan pergerakan Dolar AS terhadap mayoritas mata uang dunia.
Di tengah perubahan sentimen tersebut, rupiah justru masih berada dalam tekanan dan nyaris menyentuh level psikologis Rp18.000 per dolar AS. Kondisi ini membuat pelaku pasar domestik semakin fokus mencermati langkah pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar.
BACA JUGA:Dolar Meroket Tajam, Respon Lawas Prabowo Jadi Bumerang Usai Klaim Masyarakat Desa Aman
Dolar AS Melemah, Investor Mulai Tinggalkan Aset Safe Haven
Pasar global menyambut positif kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran berpotensi mencapai kesepakatan damai dalam waktu dekat. Pernyataan Presiden AS mengenai peluang penandatanganan kesepakatan di Eropa pada akhir pekan turut meningkatkan optimisme investor.
Dampaknya langsung terlihat pada pelemahan indeks dolar AS yang terkoreksi sekitar 0,3 persen. Penurunan tersebut juga dibarengi melemahnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (US Treasury), yang selama ini menjadi salah satu aset perlindungan utama saat kondisi pasar tidak menentu.
Harapan dibukanya kembali Selat Hormuz sebagai jalur pelayaran energi global turut mendorong investor kembali memburu aset berisiko, termasuk saham dan mata uang negara-negara berbasis komoditas.
BACA JUGA:Update, Mahasiswa dan Ojol Turun ke Jalan Gelar Aksi Demo dengan Suarakan 5 Tuntutan Rakyat
Dolar Australia dan Selandia Baru Melonjak Tajam
Perubahan sentimen global membuat mata uang komoditas menjadi salah satu pemenang utama. Dolar Australia (AUD) dan Dolar Selandia Baru (NZD) mencatat penguatan signifikan setelah investor menilai risiko geopolitik mulai mereda.
Penguatan AUD/USD dan NZD/USD juga didukung oleh ekspektasi meningkatnya aktivitas perdagangan global apabila distribusi energi dari kawasan Timur Tengah kembali berjalan normal.
Banyak analis melihat pergerakan ini sebagai sinyal awal perubahan tren menjadi lebih bullish setelah beberapa pekan sebelumnya berada dalam tekanan akibat ketidakpastian geopolitik.
ECB Naikkan Suku Bunga, Euro Ikut Menguat
Sementara itu, Bank Sentral Eropa atau ECB mengambil langkah yang cukup agresif dengan menaikkan suku bunga deposito menjadi 2,25 persen.
Kenaikan ini menjadi salah satu langkah paling signifikan dalam hampir tiga tahun terakhir. ECB menilai tekanan inflasi yang awalnya dipicu oleh konflik Timur Tengah kini mulai menyebar ke berbagai sektor ekonomi di kawasan Eropa.
Keputusan tersebut memberikan dukungan tambahan terhadap penguatan euro di tengah melemahnya dolar AS.
BACA JUGA:Rupiah Ngamuk! Terkuat Asia 3 Hari Beruntun, Dolar AS Dibikin KO!
Rupiah Masih Tertekan Dekati Level Rp18.000
Di dalam negeri, rupiah belum mampu memanfaatkan pelemahan dolar AS secara maksimal. Pada penutupan perdagangan Kamis, 11 Juni 2026, mata uang Garuda ditutup melemah 44 poin di level Rp17.988 per dolar AS.
Secara harian, pelemahan rupiah tercatat sekitar 0,2 persen. Tekanan terhadap rupiah berasal dari kombinasi faktor eksternal dan domestik yang masih membebani sentimen pasar.
Dari luar negeri, inflasi Amerika Serikat yang tercatat naik menjadi 4,2 persen memperkuat keyakinan bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi lebih lama.
Sementara dari dalam negeri, pasar merespons proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang direvisi turun menjadi 5 persen. Selain itu, meningkatnya beban subsidi energi serta potensi pelebaran defisit APBN juga menjadi perhatian investor.
Pemerintah Siapkan Strategi Penguatan Rupiah
Di tengah tekanan terhadap nilai tukar, pemerintah memberikan sinyal akan menyiapkan langkah khusus untuk memperkuat rupiah.
Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad, bahkan mengimbau masyarakat agar mempertimbangkan untuk melepas simpanan dolar AS karena pemerintah disebut telah menyiapkan sejumlah strategi yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut langsung menjadi perhatian pasar karena dapat menjadi petunjuk adanya kebijakan fiskal maupun moneter yang lebih agresif untuk menjaga stabilitas rupiah.
Harga Minyak Turun, Emas Justru Melonjak
Meredanya ketegangan geopolitik juga berdampak pada pasar komoditas global. Harga minyak mentah WTI tercatat turun sekitar 4 persen ke kisaran USD 86 per barel karena investor memperkirakan pasokan energi dunia akan kembali normal jika Selat Hormuz dibuka.
Namun, menariknya, harga emas justru melonjak sekitar 3,4 persen hingga mencapai USD 4.212 per ons. Kenaikan ini menunjukkan bahwa sebagian investor masih memilih menyimpan aset lindung nilai sambil menunggu kepastian perkembangan geopolitik dan arah kebijakan bank sentral global.
Dengan berbagai sentimen yang berkembang saat ini, pasar keuangan diperkirakan masih akan bergerak volatil dalam beberapa hari ke depan. Fokus investor kini tertuju pada perkembangan negosiasi AS-Iran, kebijakan Federal Reserve, serta langkah konkret pemerintah Indonesia dalam menjaga stabilitas rupiah.