Banyak Orang Kira Properti Selalu Untung, Nyatanya Bisa Jadi Jalan Menuju Bangkrut
Investasi Properti Tak Selalu Aman, Simak Kesalahan yang Harus Dihindari-foto:ist-
Risiko lainnya adalah properti yang sulit dijual kembali. Banyak investor mengira semua properti akan mudah mendapatkan pembeli.
Kenyataannya, ada banyak rumah atau apartemen yang bertahun-tahun tidak laku karena berada di lokasi yang kurang strategis atau memiliki harga yang terlalu tinggi dibandingkan nilai pasarnya.
Selama properti tersebut belum terjual, pemilik tetap harus menanggung biaya perawatan, pajak, hingga biaya administrasi lainnya.
Investasi properti juga memerlukan biaya tambahan yang sering kali tidak diperhitungkan sejak awal.
Misalnya biaya renovasi, biaya notaris, pajak pembelian, biaya balik nama, hingga biaya pemeliharaan rutin.
Jika seluruh biaya tersebut tidak dimasukkan dalam perhitungan investasi, keuntungan yang diharapkan bisa jauh lebih kecil, bahkan berubah menjadi kerugian.
Kondisi ekonomi juga sangat memengaruhi pasar properti.
Saat suku bunga kredit meningkat atau daya beli masyarakat melemah, permintaan terhadap rumah dan apartemen biasanya ikut menurun.
Dampaknya, harga properti bisa stagnan dalam waktu yang cukup lama sehingga investor harus menunggu bertahun-tahun untuk memperoleh keuntungan.
Bagi investor yang membeli properti untuk disewakan, risiko tetap ada.
Properti bisa kosong dalam waktu lama karena tidak mendapatkan penyewa.
Selama masa kosong tersebut, pemilik tetap harus membayar berbagai biaya operasional tanpa memperoleh pemasukan.
Jika cicilan masih berjalan, kondisi ini dapat mengganggu arus kas dan memicu masalah keuangan.
Karena itu, investasi properti sebaiknya dilakukan berdasarkan analisis, bukan sekadar keyakinan bahwa harga pasti naik.
Memahami perkembangan wilayah, menghitung kemampuan finansial, memperkirakan biaya tambahan, serta menilai potensi permintaan pasar merupakan langkah penting sebelum memutuskan membeli sebuah properti.