bacakoran.co

KKI Sentil Direktur RS Buntut Kasus Dokter Bully Pasien BPJS, Jangan Lepas Tangan!

KKI desak direktur RS ikut awasi oknum dokter dan nakes pembully pasien BPJS yang meninggal dunia.--Kemenkes

KKI Sentil Direktur RS Buntut Kasus Dokter Bully Pasien BPJS, Jangan Lepas Tangan!

Budi

Tri


bacakoran.co – konsil kesehatan indonesia (kki) meminta seluruh direktur rumah sakit tidak lepas tangan menyusul mencuatnya kasus komentar nirempati sejumlah dokter dan tenaga kesehatan (nakes) terhadap pasien bpjs kesehatan bernama yurizal tri chaerawan, yang belakangan diketahui telah meninggal dunia.

kki menegaskan pembinaan terhadap oknum tenaga medis itu juga menjadi tanggung jawab manajemen rumah sakit tempat mereka bekerja.

sepuluh rumah sakit sudah teridentifikasi

pimpinan kki, dr. muhammad syahril, mengungkapkan pihaknya telah mengidentifikasi 10 rumah sakit tempat para oknum dokter dan nakes tersebut bekerja maupun berpraktik.

ia meminta setiap direktur rumah sakit proaktif melakukan pengawasan dan pembinaan selama proses penelusuran berlangsung.

"pembinaan dan pengawasan di lokasi kerja menjadi tanggung jawab pimpinan rumah sakit juga. jangan sampai direktur merasa tidak punya tanggung jawab. dalam kasus ini, penelusuran proaktif dilakukan oleh organisasi profesi (op) bersama rumah sakit tempat mereka bekerja," ujar syahril dalam konferensi pers di kantor kki, jakarta, kamis (6/8/2026).

syahril menambahkan, para tenaga kesehatan yang kini ditelusuri memiliki latar belakang profesi yang beragam.

mereka terdiri dari aparatur sipil negara (asn), peserta program pendidikan dokter spesialis (ppds), dokter umum di rumah sakit swasta, perawat, hingga dokter gigi.

kki menilai keterlibatan aktif rumah sakit penting agar pembinaan tenaga kesehatan berjalan optimal dan kasus serupa tidak kembali terulang.

investigasi mendalam bersama organisasi profesi

kki bersama organisasi profesi masih mendalami dugaan pelanggaran yang dilakukan para oknum tersebut.

hasil investigasi akan menentukan apakah tindakan mereka masuk kategori pelanggaran etika, disiplin profesi, atau bahkan ranah hukum.

"mekanisme investigasi akan melihat apakah ini masuk pelanggaran etika, disiplin profesi, atau hukum. sanksi diberikan berdasarkan mekanisme dan bobot pelanggarannya," ujar syahril.

ia menjelaskan apabila terbukti melanggar etika profesi, sanksi yang dapat dijatuhkan berupa teguran lisan, teguran tertulis, hingga kewajiban mengikuti pendidikan ulang mengenai etika profesi.

terancam sanksi berat hingga pencabutan izin praktik

namun apabila hasil pemeriksaan menunjukkan adanya pelanggaran disiplin profesi tingkat sedang hingga berat, konsekuensinya bisa berupa penonaktifan surat tanda registrasi (str).

sanksi tersebut secara otomatis berdampak pada surat izin praktik (sip), sehingga tenaga medis atau tenaga kesehatan bersangkutan tidak dapat menjalankan praktik selama masa hukuman.

"apabila terjadi penonaktifan str, maka secara otomatis diikuti dengan penonaktifan surat izin praktik (sip). artinya, dokter atau nakes bersangkutan tidak boleh menjalankan praktik sementara waktu sesuai tenggat hukuman, misalnya tiga hingga enam bulan, atau bahkan pencabutan," jelas syahril.

kisah pilu yurizal: dari curhat threads hingga meninggal dunia, publik kecam oknum dokter dan nakes

seorang pasien bpjs kesehatan bernama yurizal tri chaerawan dunia pada 31 juli 2026 setelah sebelumnya mengeluhkan menunggu delapan jam tanpa mendapatkan kamar perawatan di rumah sakit.

curhatannya di threads pada 22 juli 2026 justru dibanjiri komentar sinis dan menghina yang diduga berasal dari tenaga kesehatan dan dokter.

yurizal tri chaerawan, yang lahir pada 29 juli 1997, memilih tidak menyebutkan nama rumah sakit dengan alasan statusnya sebagai

“8 jam blm dpt ruangan. gamau spill rs nya, soalnya gue pake bpjs,” tulisnya di akun @yurizaltrich.

unggahan singkat itu awalnya tampak biasa, namun menjadi sumber duka berlapis setelah kabar kematiannya tersebar.

sepupunya, hilda aprianti perdana akun @hilperd, mengonfirmasi kepergian yurizal.

“yurizal sender ini sepupu saya, sudah meninggal 31 juli kemarin, karena terlambat ditanganin rs karena sudah gawat bgt. maafin sepupu saya kalau curhat gini di threads, sebelumnya dia sakit ga pernah cerita-cerita ke mana, bahkan ke keluarga, apa-apa nyimpen sendiri. sudah ya jangan ada hate lagi di sini,” ujar hilda.

sahabat dekatnya, firhan arief akun @firhan_arief, memberikan kesaksian yang lebih rinci. ia mendampingi almarhum sejak masuk igd.

“saya yang betul-betul mendampingi alm dari awal masuk igd, nunggu ct scan sampai 48 jam, dapat ruangan setelah 2 hari di igd, dan bahkan ketika alm mau masuk hcu ruangan penuh, akhirnya alm diberikan tindakan khusus di ruang ranap. saya juga bersaksi, alm menangis dan sedih lihat threads ini,” tulis firhan.

ia menambahkan bahwa kondisi yurizal menurun setelah membaca komentar-komentar tersebut, hingga akhirnya tidak lagi memegang alat komunikasi.

sebagaimana dikutip dari akun x @sosmedkeras pada tanggal 4 agustus 2026, unggahan asli yurizal dan sejumlah tangkapan layar komentar menyebar luas.

beberapa komentar yang menjadi sorotan antara lain saran agar yurizal “potong aja kak nadinya nanti juga cepet dapet ruangan,” anjuran masuk ruang jenazah karena “selalu kosong,” hingga ucapan “serangan jantung mas nek pingin cepet, igd langsung cathlab terus budal icu.”

beberapa akun yang diduga terkait tenaga kesehatan ikut disorot netizen, termasuk yang profilnya menunjukkan keterkaitan dengan rumah sakit atau latar belakang pendidikan kedokteran/keperawatan.

setelah kasus viral, sebagian pemilik akun menyampaikan permintaan maaf. salah satunya mengakui bahwa tulisannya telah melukai hati banyak pihak di tengah situasi sulit almarhum.

“sedih banget bacanya, kok jahat banget ya ketikan mereka sbg tenaga medis begitu. gimana kita sbg pasien bisa cepat sembuh kalo diginiin aja dah nambah sakitnya,” tulis @carrotwoo17.

netizen lain menekankan, “semoga ini jadi pengingat keras buat kita semua. empati itu bukan cuma dibutuhkan pasien kepada tenaga kesehatan, tapi juga sebaliknya,” ujar @_pratamagung.

hingga saat ini, belum ada pernyataan resmi dari pihak rumah sakit terkait penanganan yurizal, nama fasilitas kesehatan yang dimaksud, maupun hasil pemeriksaan medis yang mengonfirmasi hubungan langsung antara waktu tunggu dan penyebab kematian.

keluarga dan sahabat meminta publik menghentikan hujatan lebih lanjut agar duka tidak berlarut.

Tag
Share