bakteri pemakan plastik ditemukan di laut! ilmuwan temukan harapan baru untuk atasi sampah pet
bacakoran.co – sampah plastik di laut selama ini menjadi salah satu persoalan paling sulit ditangani. namun, perkembangan riset terbaru memberikan harapan baru setelah para ilmuwan menemukan berbagai mikroorganisme laut yang mampu membantu memecah material plastik, termasuk polyethylene terephthalate (pet) yang banyak digunakan untuk botol minuman.
temuan ini bukan sekadar teori. sejumlah penelitian terbaru pada 2025–2026 telah mengidentifikasi bakteri dan enzim laut dengan kemampuan mendegradasi pet dalam kondisi yang menyerupai lingkungan laut. bahkan, penelitian 2026 menunjukkan sistem berbasis bakteri laut yang direkayasa mampu memecah partikel pet dalam air asin.
bakteri laut mulai jadi senjata melawan sampah plastik
salah satu tantangan utama pengolahan plastik adalah sifat polimer yang sangat sulit diurai secara alami.
pet, misalnya, memiliki struktur kimia yang kuat. karena itu, peneliti selama bertahun-tahun mencari enzim yang dapat memotong rantai polimer tersebut menjadi molekul yang lebih sederhana.
salah satu kelompok enzim yang menjadi perhatian adalah petase.
enzim tersebut bekerja dengan menghidrolisis ikatan tertentu pada pet. proses ini dapat menghasilkan senyawa antara seperti mhet dan kemudian asam tereftalat (tpa) yang berpotensi dimanfaatkan kembali dalam proses daur ulang.
penelitian terhadap bakteri laut rhodococcus pyridinivorans p23 sebelumnya juga menemukan enzim pet esterase yang mampu membantu proses biodegradasi pet.
penelitian 2026 bawa terobosan baru
salah satu perkembangan paling menarik datang dari penelitian yang dipublikasikan pada 2026.
peneliti mengembangkan vibrio natriegens sebagai sistem biokatalis hidup untuk membantu menguraikan mikroplastik pet di lingkungan air asin.
dalam kondisi yang menyerupai air laut dengan salinitas 3,5 persen dan suhu 30 derajat celsius, sistem yang disebut vn-petase mampu mengonversi 96,6 persen substrat model dalam enam jam.
peneliti kemudian mengembangkan varian vn-fastpetase. sistem tersebut mampu melakukan depolimerisasi partikel mikro dan nano-pet hingga menghasilkan mhet dan tpa di dalam air laut buatan.
namun, penting dicatat bahwa hasil tersebut merupakan uji laboratorium, bukan bukti bahwa bakteri tersebut sudah dapat dilepas ke laut untuk membersihkan sampah plastik secara massal.
ada juga bakteri laut yang menyerang pet kristalin
perkembangan lainnya datang dari penelitian terhadap priestia megaterium jou-s14.
bakteri yang ditemukan dari lingkungan pesisir jiangsu, china, tersebut menunjukkan kemampuan mendegradasi pet mikroplastik dengan tingkat kristalinitas tinggi.
dalam pengujian selama 30 hari, bakteri tersebut menyebabkan kehilangan massa sekitar 5,02 persen pada mikroplastik pet dan 7,09 persen pada film pet.
peneliti juga mengidentifikasi enzim pet hydrolase bernama pmpetase yang berperan dalam proses tersebut.
angka ini memang belum berarti plastik dapat lenyap dalam hitungan hari.
justru hasil tersebut memperlihatkan betapa kompleksnya proses biodegradasi plastik dan mengapa penelitian lanjutan masih diperlukan.
mengapa plastik sulit diuraikan?
pet memiliki struktur polimer yang membuatnya tahan terhadap berbagai proses lingkungan.
masalahnya semakin rumit ketika plastik masuk ke laut.
suhu, kadar garam, tekanan lingkungan, ukuran partikel, serta struktur kristalin plastik dapat memengaruhi aktivitas mikroorganisme dan enzim.
karena itu, enzim yang bekerja baik di laboratorium belum tentu memberikan hasil sama ketika diterapkan langsung di lautan.
sebuah tinjauan ilmiah 2025 bahkan menyoroti bahwa penelitian mengenai biodegradasi plastik oleh mikroorganisme laut masih menghadapi persoalan metode, kontrol eksperimen, dan pembuktian fungsi degradasi yang perlu diperkuat.
mikroba laut bisa menjadi dasar teknologi daur ulang masa depan
potensi terbesar dari temuan tersebut sebenarnya bukan membuat bakteri dilepas ke laut.
peneliti lebih mungkin memanfaatkannya untuk mengembangkan enzim yang dapat diproduksi dan digunakan dalam fasilitas pengolahan limbah.
keunggulannya, enzim tertentu dapat direkayasa agar bekerja lebih efektif pada kondisi tertentu.
penelitian terbaru bahkan berhasil merekayasa ispetase agar lebih stabil dan aktif dalam air laut. varian m8 dilaporkan mampu melakukan depolimerisasi pet dalam air laut alami pada suhu 37 derajat celsius dan menghasilkan monomer yang dapat dimanfaatkan untuk proses lanjutan.
teknologi seperti ini berpotensi mengubah cara pengolahan limbah plastik.
daripada hanya menghancurkan plastik menjadi potongan lebih kecil, proses enzimatik dapat diarahkan untuk memecahnya kembali menjadi bahan kimia dasar yang kemudian bisa digunakan sebagai bahan baku.
bukan berarti sampah plastik boleh dibuang ke laut
meski terdengar menjanjikan, penemuan mikroba pemakan plastik tidak boleh dianggap sebagai solusi instan.
laut bukan tempat pengolahan sampah raksasa.
melepaskan mikroorganisme hasil rekayasa ke lingkungan terbuka juga memiliki persoalan ekologis dan keamanan yang harus dikaji secara ketat.
penelitian 2025 menunjukkan bahwa plastik di laut memang cepat dikolonisasi oleh komunitas bakteri tertentu dan dapat mengalami perubahan kimia yang berbeda tergantung jenis polimernya.
artinya, hubungan antara plastik dan mikroorganisme di laut memang nyata, tetapi ekosistemnya sangat kompleks.
harapan baru untuk mengurangi sampah plastik
penemuan berbagai mikroorganisme laut tersebut menunjukkan bahwa alam memiliki sumber enzim yang sangat beragam.
bahkan, sebuah penelitian 2025 berhasil membangun koleksi 1.377 strain bakteri dan 202 strain jamur laut untuk penelitian biodegradasi berbagai jenis plastik.
potensi tersebut masih sangat besar untuk dikembangkan.
ke depan, penelitian dapat diarahkan pada tiga hal utama:
- menemukan enzim yang bekerja lebih cepat;
- meningkatkan stabilitas enzim pada air asin dan suhu rendah;
- mengembangkan teknologi daur ulang plastik berbasis enzim dalam skala industri.
dengan begitu, teknologi mikroba tidak hanya digunakan untuk membersihkan pencemaran, tetapi juga mendukung ekonomi sirkular.
kesimpulan
ilmuwan memang telah menemukan mikroorganisme dan enzim yang mampu membantu menguraikan pet dalam kondisi laut, tetapi teknologi tersebut masih berada pada tahap penelitian dan pengembangan.
temuan 2026 mengenai sistem berbasis vibrio natriegens serta penelitian terhadap priestia megaterium menunjukkan kemajuan penting dalam pencarian solusi biologis untuk sampah plastik.
namun, solusi paling efektif tetap dimulai dari hulu: mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, meningkatkan pengumpulan sampah, memperbaiki sistem daur ulang, dan mencegah plastik masuk ke sungai serta laut.
bakteri pemakan plastik mungkin menjadi salah satu senjata masa depan. tetapi untuk saat ini, jangan menjadikannya alasan untuk terus membuang plastik sembarangan.