bacakoran.co - cara paling sederhana agar tidak cepat habis adalah membedakan kebutuhan dan keinginan sebelum mengeluarkan uang.
kebutuhan harus diprioritaskan karena berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, sedangkan keinginan dapat ditunda atau dibeli jika kondisi keuangan memungkinkan.
mengatur uang bulanan terkadang bukan hanya soal seberapa besar penghasilan yang diterima.
pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali juga dapat membuat uang habis tanpa terasa.
misalnya, membeli makanan atau minuman karena sedang ingin, checkout barang karena melihat promo, hingga berlangganan layanan yang jarang digunakan.
satu transaksi mungkin terlihat kecil, tetapi jika dilakukan berkali-kali dalam satu bulan, jumlahnya dapat menjadi cukup besar.
karena itu, salah satu kebiasaan finansial yang penting adalah mampu membedakan kebutuhan dengan keinginan.
apa perbedaan kebutuhan dan keinginan?
kebutuhan adalah sesuatu yang diperlukan untuk menjalankan aktivitas atau memenuhi kebutuhan dasar, sedangkan keinginan merupakan sesuatu yang ingin dimiliki atau dinikmati meskipun tanpa barang atau layanan tersebut seseorang masih dapat menjalani aktivitasnya.
contoh kebutuhan antara lain makanan, biaya transportasi, tempat tinggal, kebutuhan pendidikan, tagihan, dan perlengkapan yang memang diperlukan untuk bekerja atau belajar.
sementara itu, keinginan dapat berupa membeli pakaian baru meskipun pakaian yang dimiliki masih cukup, mengganti gadget yang masih berfungsi, nongkrong terlalu sering, atau membeli barang karena sedang mengikuti tren.
perbedaannya memang terlihat sederhana. namun, dalam praktiknya, seseorang sering menganggap keinginan sebagai kebutuhan.
kenapa uang bulanan cepat habis?
ada beberapa alasan yang membuat uang bulanan cepat berkurang.
pertama, belanja tanpa membuat prioritas.
ketika semua pengeluaran dianggap penting, uang akan lebih mudah digunakan untuk hal-hal yang sebenarnya masih dapat ditunda.
kedua, terlalu sering melakukan pembelian kecil.
harga rp10.000 atau rp20.000 mungkin terlihat tidak terlalu besar.
namun, jika dilakukan setiap hari, jumlahnya dapat mencapai ratusan ribu rupiah dalam sebulan.
ketiga, mudah tergoda promo.
diskon memang dapat membuat harga terlihat lebih murah, tetapi membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan tetap menjadi pengeluaran.
keempat, tidak memiliki batas pengeluaran.
tanpa batas yang jelas, seseorang cenderung menggunakan uang sesuai keinginan sampai akhirnya baru menyadari bahwa saldo sudah menipis.
cara sederhana membedakan kebutuhan dan keinginan
sebelum membeli sesuatu, coba ajukan beberapa pertanyaan kepada diri sendiri.
1. apakah barang ini benar-benar dibutuhkan?
tanyakan apakah barang tersebut benar-benar diperlukan untuk aktivitas sehari-hari.
jika jawabannya tidak, jangan langsung melakukan pembelian.
misalnya, ingin membeli sepatu baru karena melihat model yang sedang tren.
sebelum checkout, periksa terlebih dahulu apakah sepatu yang dimiliki masih layak digunakan.
jika masih cukup, pembelian tersebut kemungkinan lebih dekat dengan kategori keinginan.
2. apa yang terjadi jika tidak membelinya?
pertanyaan berikutnya adalah “apa akibatnya jika saya tidak membeli barang ini?”
jika tidak membelinya membuat aktivitas utama terganggu, kemungkinan barang tersebut merupakan kebutuhan.
sebaliknya, jika tidak membeli barang tersebut tidak memberikan dampak berarti terhadap kehidupan sehari-hari, pembelian dapat ditunda.
cara ini cukup efektif untuk mengurangi pembelian impulsif.
3. apakah hanya ingin karena promo?
promo sering membuat seseorang merasa harus segera membeli.
padahal, diskon bukan berarti seseorang menghemat uang jika barang tersebut sebenarnya tidak diperlukan.
contohnya, sebuah barang seharga rp200.000 mendapatkan diskon menjadi rp120.000.
secara harga memang lebih murah, tetapi jika barang tersebut tidak dibutuhkan, uang rp120.000 tetap keluar dari dompet.
harga murah tidak otomatis berarti pengeluaran tersebut menguntungkan.
gunakan metode “tunda sebelum membeli”
salah satu cara sederhana untuk mengurangi belanja impulsif adalah memberikan jeda sebelum membeli.
untuk barang kecil, coba tunggu beberapa jam.
untuk barang yang harganya cukup besar, pertimbangkan menunggu satu atau beberapa hari.
setelah waktu tersebut berlalu, tanyakan kembali apakah barang itu masih benar-benar diperlukan.
jika keinginan membeli sudah hilang, kemungkinan besar pembelian tersebut hanya didorong oleh keinginan sesaat.
pisahkan uang berdasarkan fungsinya
agar lebih mudah mengontrol pengeluaran, uang bulanan dapat dibagi berdasarkan kebutuhan.
contohnya:
kebutuhan utama: makanan, transportasi, tagihan, pendidikan.
tabungan: uang yang sengaja disisihkan dan tidak digunakan untuk belanja sehari-hari.
keinginan: hiburan, nongkrong, belanja fashion, atau barang tambahan.
dana cadangan: uang yang disiapkan untuk kebutuhan tidak terduga.
pembagian tersebut tidak harus menggunakan persentase yang sama untuk semua orang.
kondisi keuangan setiap orang berbeda, sehingga jumlahnya perlu disesuaikan dengan penghasilan dan tanggungan masing-masing.
buat daftar sebelum belanja
daftar belanja dapat membantu membatasi pengeluaran.
sebelum pergi ke minimarket, supermarket, atau membuka aplikasi belanja online, tuliskan barang yang memang dibutuhkan.
kemudian, usahakan membeli sesuai daftar.
cara sederhana ini dapat mengurangi kemungkinan memasukkan barang tambahan hanya karena melihat kemasan menarik atau mendapatkan promo.
bedakan “butuh sekarang” dan “bisa nanti”
tidak semua kebutuhan harus dibeli saat itu juga.
misalnya, sepatu yang digunakan sehari-hari sudah mulai rusak dan mengganggu aktivitas. pembelian sepatu baru dapat menjadi prioritas.
sebaliknya, jika sepatu lama masih nyaman digunakan tetapi ingin membeli model baru karena sedang tren, pembeliannya dapat ditunda.
dengan membedakan “butuh sekarang” dan “bisa nanti”, seseorang dapat menentukan mana pengeluaran yang benar-benar harus didahulukan.
jangan terlalu keras pada diri sendiri
mengatur keuangan bukan berarti tidak boleh menikmati hasil kerja.
jika seluruh uang hanya digunakan untuk kebutuhan wajib tanpa memberikan ruang untuk hiburan, seseorang justru dapat merasa terlalu terbebani.
karena itu, tetap sediakan anggaran khusus untuk keinginan sesuai kemampuan.
misalnya ingin membeli makanan favorit, menonton film, membeli kosmetik, atau nongkrong bersama teman.
selama pengeluaran tersebut sudah masuk anggaran dan tidak mengganggu kebutuhan utama, aktivitas tersebut tetap dapat dilakukan.
kuncinya bukan menghilangkan keinginan, melainkan mengendalikannya agar tidak menguasai seluruh anggaran bulanan.