Minta 50 Motor Trail, Disetujui 100, Di Tengah Utang Rp 10.293 T, Pola
Gubernur Sumsel minta 50 motor trail, Prabowo langsung setujui 100 unit.gbr.ist--
Aktivis bahkan menyebut pengungkapannya "ibarat membalik telapak tangan" karena buktinya sangat jelas. Mantan Gubernur Alex Noerdin (menjabat dua periode 2001–2012) menjadi tersangka korupsi sebanyak 3 kali dalam kasus berbeda: hibah pembangunan Masjid Raya Sriwijaya, korupsi Pasar Cinde Palembang, dan lainnya.
Berbagai kasus gratifikasi bantuan pembangunan di tingkat kabupaten/kota yang terus bermunculan hingga tahun 2025.
Dalam konteks ini, keputusan "minta 50, disetujui 100" bukan lagi sekadar terlihat murah hati. Ia memicu pertanyaan yang sangat wajar:
Apakah ini benar-benar didasari kebutuhan darurat yang terukur? Ataukah ini adalah momen yang sama: ketika bencana menjadi pintu masuk untuk memperbesar proyek, memperbesar volume pengadaan, dan memperbesar celah mark-up?
BACA JUGA:Karhutla Way Kambas Meluas ke Rawa Mbah Sapon, Petugas Berjibaku di Medan Sulit
FAKTA 3: Prioritas yang Terbalik di Tengah Tekanan Ekonomi
Yang paling menyakitkan dari keputusan ini adalah konteksnya yang kontras dengan realitas keuangan negara:
- Utang pemerintah tembus Rp 10.293 triliun, rasio 41,26% terhadap PDB
- Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menyerap Rp 229 triliun anggaran 2026, dengan catatan 24%–74% makanan terbuang dan 40.759 korban keracunan
- Berbagai program sosial dan infrastruktur masih mengeluhkan keterbatasan anggaran
Namun ketika seorang kepala daerah meminta 50 unit motor trail, jawabannya adalah: langsung gandakan jadi 100.
Tidak ada tanya balik: "Apakah 50 unit benar-benar kurang? Berapa unit yang sudah ada sekarang? Berapa biaya per unitnya? Bagaimana rencana pemeliharaannya setelah karhutla selesai?"
Tidak ada transparansi harga. Tidak ada kajian independen. Hanya satu kalimat singkat yang mengubah volume pengadaan negara menjadi dua kali lipat.
Inilah yang membuat publik semakin pesimis: negara ini terlihat sangat kaya ketika soal menyetujui permintaan, tapi tiba-tiba menjadi sangat miskin ketika soal pengawasan, evaluasi, dan pertanggungjawaban.
BACA JUGA:Miris! 1.106 Titik Panas Terdeteksi di Kalimantan Hari Ini, Asap Tebal Ancam Kesehatan Warga
KESIMPULAN: Saatnya "Iya" yang Berdasarkan Data, Bukan Berdasarkan Insting
Penanganan karhutla Sumsel memang membutuhkan dukungan nyata dari pemerintah pusat. Tidak ada yang menyangkal bahwa personel dan peralatan di lapangan butuh penguatan.
Namun keputusan "minta 50, disetujui 100" tanpa proses yang transparan adalah contoh buruk dari tata kelola negara yang lemah. Ia mengulang pola yang sama yang selama ini membuat anggaran negara bocor kemana-mana:
- Permintaan diajukan
- Langsung disetujui (bahkan dilebihkan)
- Tanpa kajian kebutuhan
- Tanpa transparansi harga
- Tanpa mekanisme pengawasan yang ketat
Di tengah utang yang menumpuk dan pemborosan yang masih terjadi di berbagai sektor, negara tidak bisa lagi bermain dengan logika "asal jalan, asal cepat". Setiap rupiah anggaran yang dikeluarkan harus memiliki jawaban yang jelas: untuk apa, berapa harganya, siapa yang mengawasi, dan apa hasilnya?
Jika tidak, maka "motor trail 100 unit" hari ini hanyalah episode lain dari cerita panjang yang sama: tentang negara yang kaya akan sumber daya, tapi miskin akan pengawasan dan rakyat yang selalu menjadi penonton sambil membayar tagihannya.