5 Siasat Hemat BBM Mobil LCGC Saat Terjebak Macet Perkotaan Menuju Kampus
5 Siasat Hemat BBM Mobil LCGC Saat Terjebak Macet Perkotaan Menuju Kampus.-- gemini--
Bacakoran.co - Mobilitas harian menuju kampus sering kali diuji oleh kemacetan jalanan perkotaan yang tidak terhindarkan. Bagi mahasiswa pengguna mobil Low Cost Green Car (LCGC), kondisi stop-and-go di tengah kemacetan menjadi penyebab utama konsumsi bahan bakar minyak (BBM) membengkak. Meskipun mesin LCGC didesain efisien, teknik berkendara yang kurang tepat saat macet tetap bisa membuat kantong jebol.
Berikut adalah siasat praktis yang bisa kamu terapkan agar pengeluaran BBM mobil LCGC tetap irit dan hemat untuk kantong mahasiswa.
BACA JUGA:Suzuki S-Presso vs Daihatsu Ayla: Duel LCGC Paling “Masuk Akal” di Indonesia! Siapa Paling Worth It?
1. Manfaatkan Teknik Smooth Driving saat Stop-and-Go
Kemacetan membuat pengemudi sering menginjak pedal gas dan rem secara mendadak. Gaya berkendara agresif ini menyedot bensin jauh lebih banyak karena mesin memaksa pasokan BBM ekstra untuk akselerasi dari posisi diam.
Langkah praktis: Tekan pedal gas secara perlahan dan bertahap saat mobil mulai bergerak. Jaga jarak aman dengan kendaraan di depan agar kamu tidak perlu sering mengerem mendadak. Biarkan mobil merayap
memanfaatkan momentum putaran mesin idle saat transmisi di posisi D (untuk matik) atau lepas kopling perlahan (untuk manual).
Kesalahan umum: Menginjak gas secara spontan untuk menutup celah jalan agar tidak diserobot kendaraan lain, lalu mengerem keras sesaat setelahnya.
Manfaat: Menjaga konsumsi BBM tetap stabil, mengurangi keausan pada kampas rem, serta membuat perjalanan terasa lebih rileks.
BACA JUGA:Daihatsu Ayla 2026 Resmi Hadir! LCGC Termurah Mulai Rp 138,5 Juta, Jadi Favorit Anak Muda
2. Atur Suhu AC dan Penggunaan Aksesori Kelistrikan
Kompresor AC bekerja mengambil daya langsung dari mesin. Di tengah kemacetan perkotaan yang panas, AC yang bekerja terlalu keras akan memperberat beban mesin dan meningkatkan konsumsi BBM secara signifikan.
Langkah praktis: Atur suhu AC pada tingkat sedang yang tetap nyaman, misal di suhu 22–24 derajat Celsius, dan hindari menyetel kipas (blower) pada tingkat maksimum secara terus-menerus. Parkirkan mobil di tempat yang teduh sebelum digunakan agar kabin tidak terlalu panas saat mesin baru dinyalakan.
Kesalahan umum: Menyetel AC pada suhu paling dingin dengan blower maksimal sepanjang jalan sambil mengisi daya banyak perangkat elektronik secara bersamaan.
Manfaat: Mengurangi beban kompresor AC pada kinerja mesin sehingga penggunaan BBM menjadi jauh lebih efisien.