bacakoran.co

Stok Beras Nasional Aman 10 Bulan, Harga Masih Tinggi

Stok Beras Nasional Aman 10 Bulan, Harga Masih Tinggi.gbr-gemini--

BACAKORAN.CO - Pemerintah melalui Kementerian Pertanian memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman hingga sekitar 10 bulan ke depan. 

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyebut total ketersediaan beras nasional berada di kisaran 25–26 juta ton, meski harga beras di tingkat konsumen masih dirasakan tinggi.

Kondisi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara ketersediaan beras secara nasional dan harga yang dibayar masyarakat di pasar.

Pemerintah menyatakan pasokan cukup menghadapi musim kemarau panjang serta potensi dampak El Nino, sementara upaya stabilisasi harga tetap dilakukan.

Amran menjelaskan, stok nasional tersebut tidak hanya berasal dari cadangan beras yang dikelola Perum Bulog.

Perhitungan juga mencakup beras yang tersedia di masyarakat serta hasil tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop. 

BACA JUGA:Jika 3 Tahun Perum Bulog Tak Bangun Gudang, Pemkab Muara Enim Batalkan Hibah Lahan 3 Hektar

Stok Beras Capai 25–26 Juta Ton

Menurut Amran, Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Bulog berada di kisaran 5 juta ton. Selain itu, produksi dari tanaman padi siap panen diproyeksikan sekitar 10 juta ton.

Pasokan lainnya berasal dari beras yang berada di rumah tangga serta sektor hotel, restoran, dan kafe. 

Dengan kebutuhan konsumsi nasional sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah memperkirakan ketersediaan tersebut cukup hingga sekitar Juni 2027. 

Angka tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat cadangan pangan. 

Sebelumnya, Kementan mencatat stok Bulog mencapai sekitar 5,25 juta ton pada Agustus 2026. 

Sementara proyeksi BPS juga menunjukkan produksi beras Januari–September 2026 mencapai 28,71 juta ton. 

Pemerintah juga telah menyiapkan tambahan pasokan beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton. 

Stok Beras Nasional Aman 10 Bulan, Harga Masih Tinggi

Wira

djarwo


bacakoran.co - pemerintah melalui kementerian pertanian memastikan nasional dalam kondisi aman hingga sekitar 10 bulan ke depan. 

menteri pertanian andi amran sulaiman menyebut total ketersediaan beras nasional berada di kisaran 25–26 juta ton, meski harga beras di tingkat konsumen masih dirasakan tinggi.

kondisi tersebut memperlihatkan adanya perbedaan antara ketersediaan beras secara nasional dan harga yang dibayar masyarakat di pasar.

pemerintah menyatakan pasokan cukup menghadapi musim kemarau panjang serta potensi dampak , sementara upaya stabilisasi harga tetap dilakukan.

amran menjelaskan, stok nasional tersebut tidak hanya berasal dari cadangan beras yang dikelola perum bulog.

perhitungan juga mencakup beras yang tersedia di masyarakat serta hasil tanaman padi yang siap dipanen atau standing crop. 

stok beras capai 25–26 juta ton

menurut amran, cadangan beras pemerintah (cbp) yang dikelola bulog berada di kisaran 5 juta ton. selain itu, produksi dari tanaman padi siap panen diproyeksikan sekitar 10 juta ton.

pasokan lainnya berasal dari beras yang berada di rumah tangga serta sektor hotel, restoran, dan kafe. 

dengan kebutuhan konsumsi nasional sekitar 2,5–2,6 juta ton per bulan, pemerintah memperkirakan ketersediaan tersebut cukup hingga sekitar juni 2027. 

angka tersebut sejalan dengan upaya pemerintah memperkuat cadangan pangan. 

sebelumnya, kementan mencatat stok bulog mencapai sekitar 5,25 juta ton pada agustus 2026. 

sementara proyeksi bps juga menunjukkan produksi beras januari–september 2026 mencapai 28,71 juta ton. 

pemerintah juga telah menyiapkan tambahan pasokan beras stabilisasi pasokan dan harga pangan (sphp) medium sebanyak 1 juta ton. 

tambahan tersebut dijadwalkan untuk memperkuat pasokan pasar pada periode oktober hingga desember 2026 dan dilanjutkan sampai memasuki masa panen berikutnya. 

mengapa harga beras masih tinggi?

melimpahnya stok nasional tidak otomatis membuat harga beras di semua daerah langsung turun. 

ada sejumlah komponen biaya yang memengaruhi harga sejak gabah berada di tingkat petani hingga menjadi beras yang dibeli konsumen.

salah satunya adalah biaya produksi. pengolahan lahan, tenaga kerja, sarana produksi, penggilingan, hingga biaya operasional lainnya menjadi bagian dari struktur harga sebelum beras sampai ke pasar.

faktor distribusi juga berpengaruh. beras yang harus dikirim dari daerah sentra produksi menuju wilayah konsumen membutuhkan biaya transportasi dan logistik. 

semakin panjang rantai pasokan, semakin banyak pula komponen biaya yang dapat masuk ke harga jual.

di sisi lain, pemerintah juga mempertahankan harga gabah agar petani tidak mengalami penurunan pendapatan secara tajam. 

hpp gabah kering panen (gkp) ditetapkan rp6.500 per kilogram, sehingga kebijakan harga di tingkat produsen turut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan produksi.

bapanas pada juli 2026 mencatat rata-rata harga gkp berada sekitar rp7.000 per kilogram, atau masih di atas hpp. 

pemerintah menyebut keseimbangan antara kepentingan petani sebagai produsen dan masyarakat sebagai konsumen menjadi salah satu tantangan dalam stabilisasi harga beras.

harga mulai turun, tetapi bertahap

data terbaru bapanas menunjukkan harga beras nasional mulai mengalami penurunan secara bertahap. 

per 13 september 2026, rata-rata harga beras medium nasional berada di rp13.669 per kilogram, turun 0,03 persen dibandingkan pekan sebelumnya.

sementara itu, rata-rata harga beras premium tercatat rp16.166 per kilogram atau turun 0,02 persen dalam periode yang sama. 

bapanas juga memperketat pengawasan harga melalui satgas pengawasan harga dan mutu beras yang hingga 11 september telah memantau 458 titik di 240 kabupaten/kota. 

pengawasan tersebut menyasar pedagang eceran, ritel modern, agen, grosir, distributor hingga produsen.

pemerintah menyatakan pemantauan dilakukan untuk mengidentifikasi harga yang berada di atas ketentuan serta mencari penyebab kenaikan sebelum dilakukan intervensi.

dengan demikian, persoalan beras saat ini bukan semata-mata mengenai ada atau tidaknya stok.

pemerintah perlu memastikan cadangan yang besar dapat mengalir secara efektif ke pasar, sementara harga di tingkat petani tetap memberikan insentif untuk mempertahankan produksi.

stok beras nasional saat ini dinyatakan aman hingga sekitar 10 bulan ke depan, dengan total ketersediaan sekitar 25–26 juta ton. 

namun, harga konsumen masih dipengaruhi biaya produksi, distribusi, serta kebijakan menjaga harga gabah petani.(wira)

Tag
Share