Hal ini diyakini jadi salah satu alasan mengapa ia tidak buru-buru menendang TikTok keluar dari AS.
BACA JUGA:Luar Biasa, Pemkot Prabumulih Lantik PPPK 2025 Satu Stadion Sepak Bola, Berapa Anggaran Gajinya ya?
BACA JUGA:Gandeng Israel, Jerman Siapkan Iron Dome Versi Mereka Sendiri! Mau Lawan Siapa?
Di balik layar, negosiasi antara ByteDance dan investor AS sebenarnya telah mencapai titik terang.
Struktur baru yang diajukan menyebut bahwa mayoritas saham dan operasional TikTok di AS akan dikuasai oleh pihak Amerika. Namun rencana tersebut lagi-lagi tersendat.
Mengapa? Karena China mulai menolak keras skema divestasi ini, apalagi setelah Trump menaikkan tarif bea impor untuk berbagai produk asal China.
Tindakan ini membuat hubungan kedua negara memanas, dan Beijing dikabarkan enggan memberi lampu hijau terhadap penjualan TikTok.
BACA JUGA:Usai Dikeluarkan dari Miss Indonesia 2025, Merince Kogoya Akhirnya Berbicara!
BACA JUGA:Trump Sebut Zohran Mamdani Komunis, Wali Kota Muslim Pertama New York Tanggapi dengan Tegas
Jika Xi Jinping menolak memberi izin, maka masa depan TikTok di Amerika Serikat kembali terancam.
Trump sendiri memberi sinyal bahwa ia tetap akan memaksa pelepasan kepemilikan TikTok, jika kesepakatan tidak disetujui dalam waktu dekat.
Langkah ini dinilai akan memperkuat dominasi investor lokal dalam ekosistem digital AS, sekaligus mengurangi ketergantungan pada teknologi asal China—sebuah strategi yang sudah lama jadi bagian dari kebijakan Trump.
Nasib TikTok di AS masih dalam posisi serba tidak pasti.
BACA JUGA:Viral! Nenek 74 Tahun 'Dititipkan' di Panti Jompo, Aksi Polisi Ini Bikin Haru
BACA JUGA:Gak Bisa Nego! Naik Pangkat ASN Sekarang Gak Semudah Dulu, Ini Aturan Barunya!
Meskipun Presiden Trump sudah siapkan pembelinya, restu dari Xi Jinping masih jadi kunci utama.