Dalam pernyataan yang dirilis Gedung Putih pada hari Kamis, disebutkan bahwa gencatan senjata tersebut masih berlaku dan diharapkan bisa menjadi landasan untuk meredam kekerasan.
Di tengah dinamika tersebut, Presiden Suriah Ahmed Al Sharaa memberikan respons keras terhadap aksi Israel.
Ia menuduh bahwa Israel tengah berupaya memecah belah bangsa Suriah dan mengacaukan harmoni nasional.
BACA JUGA:Modus Judi Online Sindikat China–Kamboja, 500 Akun Fiktif per Hari dan Transaksi via Kripto!
BACA JUGA:Erika Carlina Ngaku Hamil 9 Bulan di Podcast Deddy Corbuzier, Netizen Duga Sosok ini...
Sharaa menegaskan bahwa pemerintah Suriah tidak akan tinggal diam dan berkomitmen untuk melindungi hak-hak komunitas Druze di wilayahnya.
Selain itu, ia juga menekankan pentingnya menjalin kerja sama dengan Amerika Serikat demi menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan tersebut.
Situasi di Provinsi Sweida mencerminkan kompleksitas hubungan antar kelompok etnis dan kekuatan politik di Timur Tengah.
Di satu sisi, konflik ini memperlihatkan betapa rapuhnya perdamaian dalam negara yang dilanda perang bertahun-tahun.
BACA JUGA:Baru Kenal 1 Minggu Via Medsos, Diajak 'Ngamar' Wanitanya Mau Aja, Eh Ternyata Lelakinya Garong
BACA JUGA:Tersangka Kasus Laptop Chromebook Dipasang Alat Pelacak Setelah Jadi Tahanan Kota, Ini Alasannya!
Di sisi lain, keterlibatan asing seperti Israel dan Amerika Serikat menambah lapisan geopolitik yang bisa memperpanjang krisis jika tidak ditangani dengan bijaksana.