“Gak apa-apa ngibarin bendera apapun, yang penting jangan lebih tinggi dari Sang Merah Putih,” tulis salah satu netizen, dikutip dari RadarBekasi.id.
Komentar lainnya menyiratkan kritik sosial yang lebih dalam.
“Saya cinta negara ini, tapi tidak dengan pemerintahannya,” tulis akun @ms.trnzzh.
Ada juga yang menyebut tak mengibarkan Merah Putih karena kecewa dengan kondisi pejabat negeri ini.
DPR: Ini Provokasi, Bukan Hiburan
Meski sebagian publik menganggap fenomena ini sebagai bentuk kebebasan berekspresi, sejumlah anggota DPR melihatnya dengan kacamata berbeda.
Anggota Fraksi Golkar, Firman Soebagyo, menilai aksi pengibaran bendera Luffy menjelang 17 Agustus sebagai bentuk provokasi.
“Ini cara-cara provokatif yang ingin menjatuhkan pemerintahan. Tidak boleh,” tegasnya seperti dikutip dari detikNews, Kamis (31/7).
Ia pun mendorong agar pelaku pengibaran diinterogasi untuk mengetahui motif di balik aksi tersebut.
Firman juga menyinggung pentingnya penguatan pemahaman ideologi Pancasila agar tidak terkikis oleh budaya asing.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menilai fenomena ini lebih dari sekadar tren.
Ia menyebut ada dugaan gerakan sistematis yang bertujuan memecah belah bangsa.
“Kita dapat masukan dari lembaga pengamanan dan intelijen bahwa memang ada upaya-upaya untuk memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa,” ujar Dasco kepada TVOneNews.