Jelang 17 Agustus Ramai Ngibarin Bendera Luffy: Bentuk Pengkhianatan atau Nasionalisme Gaya Baru?

Jumat 01 Aug 2025 - 12:00 WIB
Reporter : Yudha IP
Editor : Yudha IP

Pengibaran bendera Luffy mungkin memang tidak lazim, tapi tak serta-merta bisa dianggap sebagai pengkhianatan.

Banyak yang melihatnya sebagai bentuk ekspresi generasi baru—nasionalisme yang tumbuh dari ruang digital, budaya pop, dan rasa frustasi terhadap realitas sosial.

Menurut pengamat budaya pop, simbol fiksi seperti Jolly Roger bisa menjelma menjadi bentuk komunikasi sosial.

Ketika rakyat merasa suara mereka tidak didengar lewat saluran formal, simbol-simbol alternatif pun bermunculan.

Dalam kasus ini, One Piece bukan hanya anime, tapi cermin keinginan akan kebebasan, keadilan, dan solidaritas.

Seharusnya bendera Merah Putih tetap menjadi simbol utama negara, namun bukan berarti rakyat tidak boleh mengekspresikan dirinya dengan simbol lain.

Justru di sinilah tantangannya: bagaimana negara merangkul ekspresi masyarakat tanpa buru-buru melabeli sebagai “gerakan makar”.

BACA JUGA:Komitmen Timnas Indonesia U-20 di Hari Kemerdekaan RI ke-79, Ini Kata Coach Indra Sjafri

BACA JUGA:Special HUT RI, 6 Konser Gratis Special Hari Kemerdekaan di Jakarta, Simak Jadwalnya Sekarang...

Toh, bukankah kemerdekaan itu sendiri tentang kebebasan memilih simbol perjuangan masing-masing?

Pada akhirnya, pengibaran bendera Luffy jelang 17 Agustus bisa jadi bukan tentang penghinaan, tapi justru ajakan untuk mendengar.

Bahwa di balik kain hitam bergambar tengkorak itu, ada suara rakyat yang ingin dimengerti—dengan cara mereka sendiri.

Kategori :