BACAKORAN.CO - Upaya diplomasi antara Ukraina dan Rusia kembali mendapat sorotan setelah pemerintah Ukraina memastikan siap melanjutkan negosiasi pertukaran tahanan dalam waktu dekat.
Langkah tersebut menjadi harapan baru bagi lebih dari 1.200 warga Ukraina yang masih berada dalam tahanan Rusia sejak pecahnya konflik pada Februari 2022.
Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskiy, menyampaikan langsung perkembangan tersebut melalui sebuah video resmi yang diunggah di kanal Telegram pribadinya.
Dalam pesannya, Zelenskiy menegaskan bahwa proses pertukaran tahanan akan menjadi prioritas pemerintah demi mengembalikan warganya ke tanah air.
“Kami mengharapkan dimulainya kembali pertukaran tahanan,” ujar Zelenskiy.
“Banyak pertemuan, negosiasi, dan panggilan telepon kini kami fokuskan untuk mewujudkan hal ini.”
Pernyataan tersebut memperkuat sinyal bahwa Kyiv sedang membuka kembali jalur komunikasi intensif dengan berbagai negara mediator, termasuk Turki dan Uni Emirat Arab.
Kepala Dewan Keamanan Ukraina, Rustem Umerov, turut memberikan konfirmasi bahwa pihaknya telah melakukan konsultasi di Turki serta Uni Emirat Arab.
BACA JUGA:Buat Publik Murka, KPAI Turun Tangan Laporkan Gus Elham Yahya yang Cium Anak Kecil!
Kedua negara itu memang dikenal aktif menjadi penengah dalam konflik Ukraina–Rusia, terutama dalam upaya kemanusiaan seperti pertukaran tawanan.
Menurut Umerov, hasil dari konsultasi tersebut menunjukkan perkembangan signifikan.
Kedua pihak dikabarkan sepakat untuk kembali ke Perjanjian Istanbul, kesepakatan yang ditandatangani pada 2022 dan difokuskan pada proses pertukaran tahanan berskala besar.
“Ini menyangkut pembebasan 1.200 warga Ukraina,” tegas Umerov dalam pernyataan resminya di Telegram.
BACA JUGA:Pesantren Al Khoziny Akan Dibangun Ulang, Menteri PU: ‘Insyaallah Pakai APBN!’