Mobil ini justru mengusung desain sporty dengan sentuhan SUV mini. Ground clearance yang cukup tinggi, bentuk bodi mengotak, serta posisi duduk yang lebih tegak memberikan kesan tangguh meski dimensinya ringkas.
Desain ini memang terkesan unik dan cukup “berani”, namun justru menjadi identitas kuat S-Presso.
Bagi sebagian konsumen, tampil beda adalah nilai plus tersendiri, terutama di segmen mobil kota.
Irit Bensin
Efisiensi bahan bakar menjadi salah satu nilai jual utama Suzuki S-Presso.
BACA JUGA:Suzuki Carry Minivan 2026 Mobil Andalan UMKM & Bos Travel: Daya Angkut Besar Muat 1 Ton
Berdasarkan data pengujian, konsumsi bahan bakarnya mencapai sekitar 21,2 km/liter untuk penggunaan kombinasi dan bisa menyentuh 24 km/liter di jalan tol.
Angka ini tergolong sangat hemat, bahkan mendekati efisiensi mobil LCGC.
Dengan konsumsi BBM yang irit, biaya operasional S-Presso menjadi lebih ringan.
Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi pengguna yang memiliki mobilitas tinggi, baik untuk aktivitas kerja, kuliah, maupun kebutuhan keluarga kecil.
Sebelum S-Presso, Suzuki sempat menghadirkan beberapa model city car di Indonesia, seperti Karimun Wagon R dan Ignis.
Karimun Wagon R yang bermain di segmen LCGC akhirnya dihentikan karena kurang diminati.
Sementara Ignis, meski memiliki basis penggemar sendiri, kini posisinya perlahan digantikan oleh S-Presso yang menawarkan harga lebih kompetitif dan efisiensi lebih baik.
Suzuki juga sempat menghadirkan Baleno Hatchback sebagai pengganti Swift.
Namun, model tersebut kini sudah tidak lagi dijual, seiring dengan strategi Suzuki yang lebih fokus pada model dengan permintaan tinggi, termasuk SUV seperti Fronx.
Alhasil, S-Presso kini menjadi tulang punggung Suzuki di segmen city car, berdampingan dengan MPV andalan mereka, Ertiga.