"Untuk ibu hamil, ibu menyusui, anak balita, juga normal," kata Dadan.
BACA JUGA:Dirut KAI: Utang Whoosh Sudah Beres, Pemerintah Siapkan Skema Pembayaran
BACA JUGA:Resmi Dilantik! Thomas Djiwandono Emban Amanah Berat Sebagai Deputi Gubernur BI
"Untuk pesantren, karena penerima manfaatnya ada di dalam pesantren dan SPPG-nya ada di dalam pesantren, maka pelayanannya akan digeser ke saat buka. Jadi masaknya siang hari, dikonsumsi pada saat buka," tuturnya.
Selain itu, BGN juga menyiapkan menu khusus yang sesuai dengan tradisi Ramadan.
Menu MBG akan mencakup kurma, telur rebus, telur asin, telur pindang, abon, buah, susu, serta penganan lokal yang tahan lama.
Dadan menekankan bahwa BGN berusaha melibatkan pelaku UMKM dalam penyediaan menu agar tidak bergantung pada produk perusahaan besar.
BACA JUGA:Sopir Ambulans Dianiaya Saat Bawa Pasien, Pelaku Kini Diamakankan Polres Cimahi
BACA JUGA:Puluhan Siswa SMKN 4 Pati Diduga Keracunan MBG, Pemkab Auto Kirim Sampel Lauk-Sayur ke Laboratorium
"Kemudian, ada abon, buah, susu, dan penganan-penganan lokal yang saya kira secara tradisional banyak disajikan di bulan Ramadan yang tahan lama. Kita hindarkan semaksimal produk-produk perusahaan besar. Sesekali boleh, tapi tidak setiap hari," ujarnya.
Untuk daerah yang mayoritas tidak berpuasa, layanan MBG tetap berjalan normal dengan menu segar seperti biasa.
Sementara itu, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di pesantren tetap beroperasi, hanya saja waktu distribusi digeser ke sore hari menjelang berbuka.
"Untuk SPPG yang ada di dalam pesantren dan penerima manfaatnya juga di pesantren, maka pelayanan normal tetapi waktunya digeser ke sore hari menjelang puasa," ucap Dadan.
BACA JUGA:Pasar Loak Kampung Ujung Banyuwangi Terbakar, Lima Kios dan Dua Motor Ludes
BGN juga menyiapkan strategi pengendalian bahan pangan agar tidak terjadi lonjakan permintaan pada komoditas tertentu selama Ramadan.