Media setempat melaporkan bahwa penunjukan Mojtaba dilakukan lebih dari sepekan setelah wafatnya sang ayah.
Ayatollah Mohsen Heidari Alekasir menegaskan bahwa pemilihan dilakukan sesuai arahan Ali Khamenei sebelum meninggal.
Ia menyatakan, "Kandidat dipilih berdasarkan arahan Khamenei bahwa pemimpin tertinggi Iran seharusnya 'dibenci oleh musuh'," sebuah pesan yang menegaskan arah politik Iran tetap konfrontatif terhadap Barat.
Dalam pernyataannya, Heidari Alekasir juga menyinggung komentar Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menolak kemungkinan Mojtaba menjadi pemimpin Iran.
BACA JUGA:Israel Gempur Kilang Minyak Teheran, Api Mengguncang Iran
BACA JUGA:Gegara Cekcok saat Apel Pagi, Oknum Sekuriti di Touna Tikam Rekan Kerja hingga Tewas
"Bahkan Setan Besar [Amerika Serikat] pun telah menyebut namanya," ujarnya, merujuk pada pernyataan Trump yang menyebut Mojtaba sebagai pilihan yang “tidak dapat diterima.”
Selama bertahun-tahun, Mojtaba dikenal sebagai sosok berpengaruh di balik layar pemerintahan ayahnya.
Ia memperkuat posisinya melalui kedekatan dengan aparat keamanan, khususnya Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta jaringan bisnis besar yang berada di bawah pengaruh mereka.
Mojtaba juga dikenal sebagai penentang kelompok reformis yang berupaya membuka hubungan dengan Barat, terutama dalam isu program nuklir.
Meski tidak pernah memegang jabatan resmi, Mojtaba berperan sebagai “penjaga gerbang” ayahnya.
Dukungan kuat dari IRGC, terutama generasi muda yang lebih radikal, membuatnya menjadi kandidat yang sulit ditandingi.
Namun, kritik terhadap politik dinasti tetap muncul, mengingat Iran pernah menggulingkan monarki pada 1979.
Mojtaba lahir pada 1969 di Mashhad, kota suci Syiah. Ia tumbuh dalam lingkungan politik yang penuh gejolak, sempat terlibat dalam perang Iran-Irak, dan menempuh pendidikan agama di Qom.