BACAKORAN.CO - Di tengah ketegangan geopolitik yang meningkat antara Arab Saudi dan Iran, Saudi Aramco tetap menjadi jangkar stabilitas bagi pasar energi dunia. Meskipun serangan terhadap infrastruktur minyak di wilayah Teluk telah memaksa penurunan produksi hingga 27 persen, perusahaan raksasa energi ini masih mampu mempertahankan output sekitar 8 juta barel per hari, menjadikannya simbol ketahanan industri minyak global.
Sebelum pecahnya konflik pada Februari 2026, kapasitas produksi Aramco mencapai 10,9 juta barel per hari.
Namun, serangan drone dan rudal Iran terhadap fasilitas minyak di timur Saudi memaksa penutupan sementara beberapa ladang lepas pantai, termasuk Safaniya dan Zuluf, dua sumber utama minyak mentah negara itu.
Penurunan produksi ini berdampak langsung pada pasar global, mendorong harga Brent crude melonjak dari $65 menjadi $114 per barel, level tertinggi sejak krisis energi 2022.
Ketergantungan Infrastruktur dan Jalur Ekspor
Salah satu tulang punggung operasional Aramco adalah pipa East–West, yang mengalirkan minyak dari Teluk Persia ke Laut Merah.
Pipa ini memiliki kapasitas hingga 7 juta barel per hari, namun throughput-nya berkurang sekitar 700.000 barel per hari akibat serangan Iran di wilayah timur.
BACA JUGA:Exposed! The Mind-Blowing Salaries of Saudi Aramco Employees Defying the Iran War
Untuk menghindari risiko lebih besar, Aramco mengalihkan sebagian besar ekspor melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, langkah yang dinilai efektif oleh analis energi internasional.
“Rerouting ekspor melalui Laut Merah adalah keputusan strategis,” ujar seorang analis energi di London. “Langkah ini tidak hanya menjaga pasokan ke Asia dan Eropa, tetapi juga memperkuat posisi Saudi sebagai pemasok yang dapat diandalkan di tengah ketidakpastian geopolitik.”
Pendapatan dan Pangsa Pasar Global
Meskipun produksi menurun, proyeksi pendapatan tahunan Aramco pada 2026 tetap mengesankan, mencapai sekitar $104 miliar.
Perusahaan ini masih memasok sekitar 10 persen kebutuhan minyak mentah dunia, menjadikannya pemain utama dalam menjaga keseimbangan pasokan global.
Kenaikan harga minyak justru memberikan kompensasi terhadap penurunan volume produksi.
“Aramco berhasil menstabilkan pendapatan berkat lonjakan harga,” kata seorang ekonom energi di Dubai. “Namun, tekanan terhadap infrastruktur dan risiko keamanan tetap menjadi tantangan besar.