Terbongkar! Selain Prihantini, 3 Peneliti Ini Terseret Kasus Dugaan Mafia Pemalsuan Riset Internasional

Selasa 26 May 2026 - 15:00 WIB
Reporter : Antonio
Editor : Jesika

"4 nama yang ada tanda merahnya adalah komplotan mereka. Sisanya kita semua saling kenal dan saling sapa/ ngobrol di conference itu. Karena memang dunia penelitian pneumo di Indonesia itu kecil, namanya pasti itu-itu aja. Kalaupun ada nama baru pasti itu salah satu kolaborator atau mahasiswa bimbingan dari peneliti pneumo Indonesia yang sudah punya nama (pemain lama)," tulis akun @ridhaintifadha dalam lembar konfirmasi digitalnya.

Modus Oknum Peneliti Indonesia Diduga Manipulasi Data Demi Liburan Gratis

Skandal dugaan pemalsuan riset terorganisir oleh sekelompok oknum yang mengatasnamakan ilmuwan Indonesia tengah menjadi sorotan tajam di kancah internasional.

Kasus ini pertama kali meledak setelah terungkap dalam sebuah konferensi ilmiah bergengsi di Kopenhagen, Denmark.

Kabar mengejutkan ini mulai mencuat ke publik melalui platform media sosial X dan thread.

Akun pengguna bernama Ardianto Satriawan dengan nama pengguna ardisatriawan pada tanggal 25 Mei 2026 membagikan sebuah utas yang langsung mendapatkan perhatian luas, mencapai 2,6 juta tayangan.

BACA JUGA:Memilukan! Terekam CCTV, Selebgram Diduga Hantam WNA hingga Tewas di Area Blok M

Dalam cuitannya, ia menyoroti dugaan beberapa orang Indonesia melakukan pemalsuan riset terorganisir yang terungkap di konferensi ilmiah di Denmark.

Ardianto juga menegaskan bahwa kasus ini harus segera diselesaikan karena berpotensi mencoreng nama baik ilmuwan Indonesia di mata internasional.

Kronologi dan Modus Operandi Pelaku

Berdasarkan tangkapan layar utas dari pengguna X mandharabrasika yang dibagikan ulang oleh Ardianto, terungkap berbagai kejanggalan dari penelitian tersebut.

Sang penulis utas menyebutkan bahwa salah seorang pelaku bahkan melakukan pemalsuan identitas dengan berganti nama saat presentasi.

BACA JUGA: Waduh, Ini Kesaksian Mata Penyerangan Rombongan Bobotoh Persib, Bawa Senjata Tajam di Tengah Euforia

Riset yang mereka bawa diklaim tidak masuk akal karena mencakup lokasi pengumpulan data dari berbagai belahan dunia seperti dataran tinggi Ethiopia, Guatemala, Lebanon, Yordania, Bangladesh, Sudan Selatan, Filipina, Kenya, Nepal, Malawi, hingga India utara.

Namun seluruh periset terpantau berasal dari Indonesia tanpa ada satupun kolaborator setempat dan tanpa keterangan persetujuan etik.

Institusi yang dicantumkan pun fiktif.

Pelaku menggunakan nama afiliasi AI-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia yang ternyata tidak dapat ditemukan riwayat keberadaannya secara sah.

BACA JUGA:Syok! Pelanggan Temukan 2 Kali Anak Kecoak di Nasi Goreng di Resto Palembang, Netizen Tebak Solaria

Pengakuan Terkait Penggunaan Generasi Buatan

Kategori :