Diduga Milik Gubernur Maluku Utara, Tambang Nikel Hancurkan Hutan Suku Togutil hingga Keluar Minta Makan

Sabtu 30 May 2026 - 12:00 WIB
Reporter : Reza
Editor : Ario

BACAKORAN.CO – Video viral yang menunjukkan 3 warga Suku Togutil mendatangi area tambang di hutan Halmahera untuk meminta makanan mengguncang publik.

Bukan karena kemalasan, melainkan karena hutan tempat mereka berburu, meramu, dan hidup turun-temurun kini semakin habis akibat ekspansi tambang nikel.

Isu ini kembali menyoroti konflik antara industri pertambangan dan kelangsungan masyarakat adat di Maluku Utara. 

Keprihatinan mendalam muncul atas nasib Suku Togutil yang kini terancam punah di tanah kelahiran mereka sendiri.

Ekspansi tambang nikel di Pulau Gebe disebut-sebut sebagai penyebab utama hilangnya ruang hidup mereka.

BACA JUGA:Warga Menjerit! Benarkah Tambang Terafiliasi Sherly Tjoanda Keruk Habis Kepulauan Malut?

Kritik pun mengarah kepada Gubernur Maluku Utara Sherly Tjoanda, yang perusahaan tambangnya dituding terlibat dalam kerusakan tersebut. 

Seperti yang dikutip Bacakorand dari X (Twitter) akun @indepenSumatera, memuat video dan juga membagikan foto-foto kerusakan Pulau Gebe yang dikaitkan dengan perusahaan milik Sherly Tjoanda, dengan 437.315 tayangan. 

Menurut postingan tersebut, Sherly Tjoanda sebagai gubernur dinilai belum cukup hadir dan bersuara tegas membela masyarakat adat.

“Bayangkan hutan yang selama ini menjadi rumah, apotek, dan gudang makanan mereka pelan-pelan hilang,” tulis akun tersebut.

Suku Togutil, atau juga dikenal sebagai Orang Tobelo Dalam/O'Hongana Manyawa, merupakan kelompok semi-nomaden yang sangat bergantung pada hutan Halmahera.

BACA JUGA:Bertemu Macron di Paris, Prabowo Keluarkan Kebijakan Wajib Bahasa Prancis untuk Pelajar

Keberadaan mereka semakin terdesak seiring masifnya industri nikel yang mendukung kebutuhan baterai kendaraan listrik global.

Aktivitas tambang di Pulau Gebe, termasuk yang dikaitkan dengan PT Karya Wijaya, disebut menyebabkan deforestasi, pencemaran, dan hilangnya sumber penghidupan adat. 

Sherly Tjoanda, yang dikenal memiliki latar belakang bisnis tambang warisan suaminya, telah mengakui kepemilikan saham pasif di beberapa perusahaan.

Kategori :