BACAKORAN.CO - Fenomena kemacetan horor di kawasan pusat kota kerap menjadi ujian terberat bagi performa kendaraan pribadi.
Saat mobil harus tertahan dalam kondisi stop-and-go selama berjam-jam di bawah terik matahari, beban kerja sistem pendingin mesin akan meningkat drastis.
Jika komponen pendukung tidak dalam kondisi prima, ancaman mesin panas berlebih atau overheat siap mengintai dan berisiko merusak komponen vital interior mesin.
Radiator memegang peranan paling sentral dalam melepaskan panas yang dihasilkan oleh proses pembakaran internal.
Tanpa aliran udara alami yang memadai saat kendaraan merayap lambat di tengah kemacetan, radiator sepenuhnya bergantung pada performa cairan pendingin dan kipas radiator.
Oleh karena itu, perawatan ekstra menjadi kunci utama agar perjalanan tetap aman dan nyaman.
Rutin Memeriksa dan Mengganti Air Radiator (Coolant)
Kesalahan paling umum pemilik kendaraan adalah menggunakan air tanah atau air keran biasa untuk mengisi tabung radiator.
Air biasa mengandung mineral tinggi yang berpotensi memicu karat, mengendap, dan menyumbat saluran pipa-pipa kecil di dalam radiator.
BACA JUGA:Toyota Land Cruiser FJ Siap Meluncur di Indonesia 2026
BACA JUGA:5 Fitur AI Terbaru di HP Android & iOS yang Bikin Pekerjaan Kamu 2x Lebih Cepat: Cek Listnya
Sangat disarankan untuk selalu menggunakan radiator coolant berkualitas yang memiliki titik didih lebih tinggi serta kandungan anti-korosi. Lakukan pengurasan dan penggantian cairan ini secara berkala setiap 20.000 hingga 40.000 kilometer.
Pantau Volume Cairan di Tabung Reservoir
Sebelum menyalakan mesin untuk menembus kemacetan kota, luangkan waktu sejenak untuk mengecek tabung cadangan (reservoir).
Pastikan posisi cairan berada di antara garis indikator Low dan Full. Jika volume cairan kerap berkurang secara drastis dalam waktu singkat, hal tersebut menjadi indikasi kuat adanya kebocoran halus pada selang atau klem penyambung.