BACAKORAN.CO - Di tengah masifnya tren minuman manis bertopik kekinian dan gaya hidup serba instan, ketakutan masyarakat terhadap ancaman diabetes kian meningkat.
Namun, tingginya perhatian publik ini nyatanya tidak diimbangi dengan pemahaman medis yang akurat.
Hingga saat ini, masih banyak persepsi keliru atau mitos yang beredar luas di tengah masyarakat terkait hubungan langsung antara konsumsi gula dan risiko terjadinya penyakit diabetes melitus.
Salah satu anggapan paling populer adalah bahwa mengonsumsi makanan atau minuman manis secara otomatis menjadi penyebab tunggal seseorang terkena diabetes.
BACA JUGA:5 Tips Mencegah Diabetes Sejak Dini Melalui Pola Makan & Gaya Hidup Sehat: Bebas Gula Darah Tinggi
Secara medis, anggapan ini kurang tepat. Diabetes, khususnya Tipe 2, merupakan kondisi komplikasi metabolik yang kompleks.
Penyakit ini muncul ketika sel-sel tubuh menjadi resisten terhadap insulin hormon yang bertugas memindahkan glukosa dari aliran darah ke dalam sel—atau ketika pankreas tidak lagi mampu memproduksi insulin dalam jumlah yang memadai.
Meski konsumsi gula berlebih secara tidak langsung meningkatkan risiko melalui pertambahan berat badan atau obesitas, gula itu sendiri bukanlah penyebab langsung.
Seseorang yang sangat jarang mengonsumsi gula tetapi memiliki pola hidup sedenter (kurang bergerak), tingkat stres tinggi, serta riwayat genetik keluarga, tetap memiliki risiko yang signifikan untuk terdiagnosis diabetes.
BACA JUGA:Diabetes Makin Mengintai: Kenali 6 Gejala dan Cara Menjaga Gula Darah Tetap Terkontrol
Mitos lain yang tak kalah marak adalah pandangan bahwa penderita diabetes harus menghentikan seluruh asupan karbohidrat dan gula secara total.
Faktanya, tubuh manusia tetap membutuhkan glukosa sebagai sumber energi utama untuk fungsi otak dan organ vital.
Hal yang paling krusial bagi penderita maupun individu berisiko adalah manajemen porsi, pemilihan jenis karbohidrat kompleks, serta kontrol indeks glikemik makanan.
Mengganti nasi putih dengan karbohidrat kaya serat seperti beras merah, gandum, atau umbi-umbian justru membantu menjaga kestabilan glukosa darah tanpa mematikan fungsi metabolisme alami tubuh.
Di sisi lain, anggapan bahwa gula alami seperti madu, gula kelapa, atau pemanis organik sepenuhnya aman dipatuhi tanpa batas juga merupakan konsep yang keliru.