Tim SAR Mataram bersama Kantor SAR Denpasar, TNI AL, Polairud, KMP Port Link II, KN SAR Arjuna, helikopter SGi Air Bali, dan kapal-kapal yang melintas segera dikerahkan.
Hingga siang hari, setidaknya 106 penumpang berhasil dievakuasi: sekitar 30–33 orang dibawa KMP Port Link ke Padangbai, 59 orang dengan KN SAR Arjuna ke Lembar, dan 17 orang dengan kapal TNI AL ke Lembar.
Sebagian penumpang mengalami luka ringan atau sesak napas dan mendapat penanganan medis.
Keluarga penumpang berkumpul di Pelabuhan Lembar menunggu kabar. Posko layanan dibuka di kedua pelabuhan. Hingga laporan terakhir, fokus tetap pada keselamatan jiwa.
BACA JUGA:Publik Murka! Aldi Taher Akui Norak Usai Terobos Panggung Band Jet di TSP Vol.9, Ini Kronologinya
Ada laporan tidak resmi satu penumpang tewas, namun data resmi menekankan mayoritas selamat.
Dugaan Penyebab dan Konteks Kesehatan Mental Pelaut
Dugaan aksi ABK membakar kapal setelah dimarahi nakhoda mengingatkan pada kejadian serupa di Perairan Aru, Maluku, pada 8 Agustus 2026.
Saat itu seorang ABK kapal penangkap cumi membakar kasur di kamar nakhoda karena tidak terima dimarahi, mengakibatkan kapal terbakar dan pelaku hilang.
“Ini bukan sekadar musibah tak terduga. Ini cerminan nyata bobroknya tata kelola industri maritim kita dari hulu ke hilir,” tulis @indepenSumatera. Komentar netizen ikut menyoroti isu yang sama. “ABK tidak cukup hanya lulusan SMK Pelayaran; mereka juga harus diuji mental dan ESQ-nya. Di laut, mental yang kuat sama pentingnya dengan keterampilan teknis,” tulis @DewiDearta.
“dari yang udah-udah, evaluasi hanya berjalan jika sudah ada bencana terjadi, sudah ada korban jiwa,” komentar @Belmnb.
BACA JUGA:Tiga Rumah Ludes, Kebakaran Hebat Gegerkan Mekakau Ilir, Bupati Turut Berduka
Keselamatan maritim ternyata bukan hanya soal mesin dan APAR, melainkan juga manajemen SDM dan kesehatan mental pelaut yang bekerja dalam hierarki ketat, isolasi panjang dan tekanan kerja tinggi.
Penumpang yang selamat kini dalam proses pendataan dan pemeriksaan kesehatan. Keluarga di pelabuhan terus menunggu kabar lengkap.
Masyarakat diminta tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi agar tidak menambah kepanikan.