Kini kondisi tersebut semakin terlihat dalam pemantauan terbaru.
Dengan mayoritas wilayah mengalami curah hujan rendah, periode tanpa hujan berpotensi menjadi lebih panjang di daerah tertentu.
Kondisi ini perlu diperhatikan terutama oleh wilayah yang mengandalkan sumber air permukaan dan air tanah untuk kebutuhan sehari-hari.
BACA JUGA:Cuaca Ekstrem Mengintai Indonesia, BMKG Ingatkan Ancaman Banjir dan Longsor
Dampak El Nino terhadap Ketersediaan Air
Salah satu dampak yang paling mudah dirasakan masyarakat adalah berkurangnya ketersediaan air.
Jika hujan turun lebih sedikit dalam periode panjang, debit sungai, waduk, embung, dan sumber air lainnya dapat ikut menurun.
Dampaknya dapat merembet ke berbagai sektor.
1. Air Bersih Berpotensi Berkurang
Masyarakat di daerah yang mengalami kekeringan dapat menghadapi berkurangnya pasokan air bersih.
Sumber mata air dan sumur dangkal berpotensi mengalami penurunan debit apabila periode kering berlangsung lebih panjang.
Karena itu, penghematan air menjadi langkah penting selama musim kemarau.
BACA JUGA:BMKG Keluarkan Peringatan Dini Cuaca Ekstrem, 4 Wilayah Wajib Waspada Hujan Lebat
2. Pertanian Menghadapi Risiko Lebih Besar
Sektor pertanian termasuk yang sangat sensitif terhadap perubahan curah hujan.
Kekurangan air dapat mengganggu jadwal tanam dan kebutuhan irigasi. Petani juga perlu menyesuaikan pola tanam dengan kondisi ketersediaan air.
Risiko tersebut semakin besar apabila periode tanpa hujan berlangsung ketika tanaman membutuhkan pasokan air yang tinggi.
3. Risiko Karhutla Meningkat
Kondisi kering juga meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Vegetasi yang kehilangan kelembapan lebih mudah terbakar. Api juga dapat menyebar lebih cepat ketika kondisi lingkungan kering dan angin mendukung.