BMKG sebelumnya telah mengingatkan bahwa penguatan El Nino dan perluasan musim kemarau perlu diwaspadai karena dapat meningkatkan ancaman kekeringan dan karhutla.
Tidak Berarti Semua Wilayah Indonesia Kering Total
Meskipun ancaman kekeringan meningkat, masyarakat tidak perlu menganggap seluruh Indonesia akan mengalami kondisi yang sama.
Data BMKG menunjukkan pada Dasarian I Agustus masih terdapat sekitar 8,28% wilayah dengan curah hujan kategori menengah dan 0,93% kategori tinggi.
Dengan kata lain, distribusi hujan tetap bervariasi.
Faktor geografis, kondisi atmosfer regional, dan fenomena iklim lain dapat membuat suatu daerah tetap mengalami hujan meskipun secara umum Indonesia berada dalam kondisi kemarau.
Apa yang Perlu Dilakukan Masyarakat?
Menghadapi musim kemarau dan penguatan El Nino, masyarakat dapat melakukan beberapa langkah sederhana.
Pertama, hemat penggunaan air. Hindari membiarkan keran terbuka terlalu lama dan gunakan air sesuai kebutuhan.
Kedua, simpan cadangan air secukupnya. Langkah ini terutama penting bagi masyarakat yang tinggal di daerah dengan risiko kekeringan.
Ketiga, jangan melakukan pembakaran lahan sembarangan. Kondisi vegetasi yang kering membuat api lebih mudah menyebar.
Keempat, pantau informasi cuaca dan iklim resmi. Kondisi setiap wilayah dapat berbeda sehingga informasi dari BMKG penting untuk menjadi acuan.
Kelima, petani perlu menyesuaikan pola tanam. Ketersediaan air perlu menjadi salah satu pertimbangan utama dalam menentukan waktu tanam.
El Nino Bisa Bertahan hingga 2027
Perkembangan El Nino tidak hanya menjadi persoalan selama Agustus 2026.
NOAA memperkirakan El Nino dapat bertahan hingga awal musim semi 2027 di belahan bumi utara. Bahkan, outlook terbaru menunjukkan peluang kejadian El Nino sangat kuat cukup tinggi pada periode Oktober–Desember 2026.
Kondisi tersebut membuat pemantauan musim hujan berikutnya menjadi penting.